Dari 170 Ribu Gay di Jabar, Abiasa Jangkau 10 Ribu
|
Bandung, SatuDunia. Sudah jelas diketahui, gay termasuk kelompok berisiko tinggi tertular HIV/AIDS. Namun, upaya penanggulangan HIV/AIDS di kalangan ini banyak terkendala. Selain tertutup, komunitas ini juga sensitif dalam interaksi sosial. Tak terkecuali komunitas gay Jawa Barat di bawah koordinasi Abiasa, Bandung.
Berdasar laporan yang dikeluarkan Departemen Kesehatan RI Direktoral Jenderal P2PL, April 2008, Provinsi Jawa Barat menduduki rangking II kasus HIV/AIDS di Indonesia. Jumlahnya pun tidak sedikit, yaitu mencapai angka 3.121 kasus. Meskipun tinggi, menurut Iman Abdurachman, Program Manager Penanggulangan HIV/AIDS Abiasa, hingga saat ini, HIV/AIDS di Jabar masih di lingkungan berisiko tinggi. ”Penyebaran HIV/AIDS itu dari kalangan gay, waria, WPS, IDU’s. Tidak seperti di Papua yang sudah menjangkau ke general population,” terang Iman ketika ditemui SatuDunia di kantornya di Bandung. Iman mengaku, saat ini Bandung masih menjadi kota yang menyumbangkan kasus HIV/AIDS terbanyak di Jabar. Namun, ia tidak menampik bahwa penyakit yang menggerogoti kekebalan badan ini sudah menyebar di kota-kota kecil di Jawa Barat. Menurut aktivis yang bergerak di penanggulangan HIV/AIDS ini, penyebab HIV/AIDS kebanyakan berasal dari pengguna narkoba suntik atau IDU’s (injecting drug user’s). ”Penyebab HIV/AIDS di Jawa Barat saat ini terbanyak disumbangkan oleh IDU’s, yaitu sebesar 78%,” terang Iman. Ia mengaku, komunitas gay dan LSL (lak-laki berhubungan seks dengan laki-laki) yang selama ini didampingi masih menyumbang sedikit kasus HIV/AIDS. ”Dari gay masih rendah. Bisa dikatakan masih di bawah 5%,” jelasnya. Meskipun jumlahnya masih sedikit, menurut Iman, kalangan gay harus tetap mewaspadai risiko penularan. Terlebih, gay dengan perilaku seks sesama jenis yang mereka lakukan lebih rentan tertular HIV/AIDS. Melihat risiko besar yang harus dihadapi komunitas gay dan LSL, di Jabar pada 5 Januari 2005, didirikan Abiasa. Organisasi ini secara konsisten melakukan pemberdayaan komunitas gay dan LSL dalam bidang kesehatan khususnya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS. Iman mengaku, kasus HIV/AIDS di kalangan gay dan LSL yang ditangani Abiasa hingga saat ini mencapai 28-30 kasus untuk seluruh wilayah Jawa Barat. Mereka yang terjangkau oleh Abiasa beberapa di antaranya adalah mereka yang berprofesi sebagai laki-laki yang menjual layanan seks serta waria. ”Ada ’kucing’—mereka yang jual seks atau pelacur. Ada juga klien waria,” jelas Iman. Mereka ditangani oleh Abiasa di bawah koordinasi manajer kasus dan secara teknis didampingi oleh kelompok dukungan sebaya (KDS). Iman mengaku, kalangan gay dan LSL yang dijangkau Abiasa masih sangat sedikit. ”Berdasarkan pendataan Desember hingga Januari jumlah gay dan LSL yang sudah terjangkau Abiasa berjumlah 10 ribu. Jumlah ini masih jauh dari ideal karena berdasarkan estimasi, jumlah gay dan LSL di wilayah Jabar mencapai 170 ribu,” jelas Iman. Untuk lebih memperluas jangkauan, Abiasa melakukan berbagai kegiatan sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS. kegiatan yang mereka lakukan beberapa di antaranya, edutainment, outreach, membuka hot-line konsultasi VCT, SMS gate-way. Abiasa juga berusaha merambah sosialisasi di dunia maya dengan membuat website www.abiasa.org Kucing Tak Pakai Kondom Iman mengaku, banyak kendala yang harus dihadapi dalam melakukan upaya penanggulangan HIV/AIDS di kalangan gay dan LSL. Kendala tersebut di antaranya, banyak gay dan LSL yang mobilitasnya tinggi—terlebih mereka yang berprofesi sebagai ’kucing’. Mereka sering berpindah-pindah kota agar klien atau pelanggan tidak bosan. ”Seringkali kucing yang kita tangani juga terjaring oleh organisasi di wilayah lain. Untuk itu, Abiasa juga mempunyai jejaring dan bekerjasama dengan organisasi di kota lain,” ujar Iman. Berdasarkan pendampingan, banyak kucing yang diketahui positif HIV/AIDS. ”Bargaining mereka rendah. Jadi, kalau ada klien yang menawarkan uang lebih, tapi nggak mau pakai kondom, mereka mau,” terang Iman. Bukan tanpa alasan, kebanyakan dari 'kucing' berasal dari kalangan ekonomi kelas bawah. Melihat kondisi tersebut, saat ini Abiasa lebih concern untuk melakukan sosialisasi penggunaan kondom ke kalangan 'kucing'. Terlebih ketika berdasarkan pendataan, ternyata kebanyakan 'kucing' sudah berkeluarga. Tentu saja mereka akan rentan menularkan penyakit tersebut ke anak dan istri mereka. Kesulitan lain juga muncul karena sikap tertutup dari kalangan gay. Iman mengaku, banyak gay yang tidak mau membuka diri alias discret. Kelompok ini berasal dari gay kalangan high class. ”Mereka malu jika ketahuan sebagai gay. Jadi mereka melakukan aktivitasnya sembunyi-sembunyi,” jelas Iman. Karena sifat tertutup tersebut, susah dideteksi berapa dari mereka yang positif HIV/AIDS karena mereka tidak mau melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan untuk kalangan gay dan LSL juga menjadi permasalahan tersendiri. Berbeda dengan kelompok berisiko lainnya, pemeriksaan untuk komunitas ini lebih rumit. ”Pemeriksaan gay lebih ribet karena gay harus diperiksa depan dan belakang,” terang Iman sembari tersenyum. Iman mengaku, tidak semua klinik mempunyai peralatan untuk memeriksa gay—terlebih klinik di daerah. Kendala itu sering menghambat upaya penanggulangan HIV/AIDS di kalangan gay dan LSL. Iman mengaku, selama berkecimpung dan berkegiatan di komunitas gay dan LSL, baiki dirinya maupun Abiasa, tidak pernah mengalami pertentangan dari kelompok masyarakat. Strategi yang dilakukannya, ia melapor ke RT atau petugas setempat tentang apa yang mereka lakukan. Namun, Iman pernah merasa dipojokkan oleh seorang oknum pegawai ketika menghadiri sebuah forum. ”Dari Dinas Sosial yang menyerang kita dengan membawa-bawa hadist di sebuah forum,” jelas Iman. Dari berbagai pengalaman yang dialaminya, sedikit menyimpulkan, Iman mengaku tantangan terbesar yang dihadapi kalangan gay dan LSL justru berasal dari dalam komunitas mereka. Di dunia gay, seringkali muncul masalah karena rata-rata dari mereka perasaannya sensitif. Akibatnya, muncul kelompok-kelompok. Ketika mencoba ditanya apakah ketidakkompakan itu muncul karena perbedaan dalam model pergaulan dan status sosial, Iman tidak menjawab. Iman juga tidak menampik ketika ditanya apakah ketidakkompakan itu muncul karena perasaan cemburu dalam persaingan mencari pasangan. Sambil berkelakar, secara diplomatis ia menjawab, ”Kalau masalah gay itu complicated. Ngurusi gay itu ribet,” terang Iman mengakhiri pembicaraan dengan SatuDunia. Namun yang pasti, ia berjanji akan terus melakukan upaya penanggulangan HIV/AIDS di kalangan gay dan LSL yang telah ia geluti selama ini. |


