for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > Sorotan > {intl-full_coverage_by_topic} > Health > AIDS skip to main content
OneWorld SatuDunia home Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA SOROTAN KEMITRAAN AMBIL BAGIAN JARINGAN
16 May 2008

‘Robby Sugara’ Itu Pun Menutup Mata dengan Senyum

Pagi di awal September 2007, alarm ponselku berdering. Aku terjaga. Kulihat waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB, sudah waktunya siap-siap mandi dan berangkat kerja. Baru saja kaki mau memijak kamar mandi, dering telepon rumah mengusikku. Karena memang kondisi rumah waktu itu cuma aku sendiri, mau tidak mau aku segera angkat telepon. Aku pikir, kalau ada telepon di pagi hari, biasanya itu berita penting. Benar saja, di ujung telepon sana ibuku mengabari bila—sebut saja dia ‘Robby Sugara’- telah menutup usia sekitar jam 5 pagi usai adzan subuh.

“Ya Allah, Innalillahi Wainalillahi Rojiun,” kataku kaget. Cepat sekali Tuhan memanggil Robby, padahal usianya masih muda, baru 28 tahun, ucapku dalam hati. Ya, aku sengaja (maaf) menyebutnya Robby Sugara, karena almarhum memiliki rupa yang mirip dengan Robby Sugara, aktor ganteng dan terkenal di era tahun 80-an. Namun saat itu aku bertanya-tanya, apa penyebab meninggalnya Robby. Setahu aku Robby sehat-sehat saja, meski tubuhnya terlihat bertambah kurus. Terakhir kali aku bertemu dengannya 5 bulan lalu, saat itu memang tubuhnya terlihat kurus.

Usai ijin kantor, aku langsung melayat. Setibanya dirumah duka, aku sungguh kaget. Aku mendapat informasi dari adik kandung Robby bahwa ia meninggal akibat HIV/AIDS. Astagfirullah, aku tak yakin ia meninggal akibat penyakit itu. Robby yang ku kenal adalah pemuda yang baik, penurut, cukup religius dan tidak macam-macam. Meski aku tidak banyak memperoleh informasi sejak kapan ia mengidap HIV/AIDS, namun ia sudah memakai narkoba sejak mulai masuk kuliah. Aku sangat yakin, Robby mulai kecanduan bukan atas inisiatifnya sendiri, tapi akibat lingkungan pergaulan di kampusnya dulu. Ia terjerat pengaruh buruk teman-temannya, ia terperangkap dalam lingkungan setan yang diciptakan teman-temannya.

“Robby, baik sama keluarga, penurut. Kak Robby baik sama adik-adik dan mama-papa. Aku sendiri nggak tahu mulai kapan pastinya kak Robby tertular. Aku sendiri nggak percaya kalau Robby sampai terjeblos makai narkoba. Dia memang pendiam, tapi di mata kami dia adalah kakaku yang baik, maafin ka Robby ya mas,” tutur Imam (nama samaran), adik kandung Robby, yang nampak tegar menghadapi cobaan ini.

Sekali lagi aku shok, tidak percaya Robby meninggal akibat HIV/AIDS. Ketika membuka tabir kain penutup wajahnya, aku melihat jenazahnya tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat kami menitikan air mata. Sebuah senyuman yang membawa kami dalam kenangan masa lalu. Sebuah senyuman, yang seolah-olah ia meminta agar semua orang tak perlu meratapinya berlebihan, seolah-olah ia tidak ingin merepotkan keluarga dan orang lain. Sebuah senyuman, kalau ia ingin orang lain tidak tahu kalau ia menahan beban penderitaan yang amat sangat. Sebuah pertanda bahwa ia siap menghadap sang Khalik dengan senyuman.

Aku bisa memahami, dan merasakan betapa beratnya beban yang ditanggung almarhum saat menjalani hari-hari dengan HIV/AIDS. Ia nampak tegar, dan tidak pernah menunjukkan kalau almarhum Robby adalah jiwa yang rapuh. Ia tetap bangkit dan beraktivitas seperti biasanya. Almarhum tidak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia tidak pernah mau merepotkan orang tuanya. Bahkan saking tidak mau menyusahkan orang tua, ia hanya minta dirawat di rumah.

“Ma, Robby nggak mau nyusahain mama-papa. Robby sudah banyak bikin mama-papa menderita karena Robby. Robby nggak mau mama-papa banyak ngeluarin uang hanya buat Robby. Biar Robby dirawat di rumah saja, biar lebih dekat dengan keluarga dan adik-adik. Robby sudah pasrah mah,” lirih Robby, yang dikutip dari perkataan sang adik. Mendengar itu, lagi-lagi aku menitikan air mata. Oh Robby, sungguh aku tidak percaya kau telah tiada.

Robby dalam Kenangan
Yang paling aku ingat, dan tidak pernah lupa sejak kecil, ialah senyuman dan sifat penurutnya. Almarhum tidak pernah berkata “tidak” bila diminta tolong oleh saudaranya yang lain. Ia dengan senang hati akan menolong, selalu membantu bila ia merasa mampu. Ia amat penurut dalam soal kebaikan.

Terakhir aku bertemu almarhum Robby sekitar 5 bulan lalu, sebelum ia menghembusnan nafas terakhirnya. Aku bertemu almarhum dalam sebuah acara arisan keluarga. Saat itu ia nampak sehat dan antusias berkumpul dengan saudaranya yang lain. Maklum, aku dan almarhum Robby, jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Bahkan bertemu dan bercakap-cakap mungkin setahun sekali. Itupun pas hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha. “Wah mas Fajar kemana aja nih, kelihatannya gemukkan dikit, sehat mas? Kerjaan masih tempat yang lama kan?” tanya Robby padaku kala itu. “Ya sehat, jawabku, kabarnya gmana?,” tanyaku kembali,

Saat itu aku ngobrol dengan almarhum Robby cukup lama. Kami bersenda gurau. Ngobrol ngalor-ngidul (kalau kata orang awa bilang). Mulai soal kerjaan, sepeda motor, sampai bercerita kenangan kami di waktu kecil. Tak terasa kami sudah menghabiskan 6 batang rokok. Kami berdua memang sama-sama perokok berat, dan kebetulan jenis rokok yang kami hisap kami sama.

Dalam sebuah kenangan, waktu usia kami 6-10 tahun, kami kadang main bersama. Seingatku, kami berdua suka bermain petasan. “Wah, mas ingat rumah uwak Iyong nggak? Rumahnya kita pasangin petasan janwe, sampe uwak Iyongnya nguber-nguber kita, sampai kambing bandotnya mau lepas karena kaget denger petasan,hahaha. Mas fajar sih lagian waktu itu nekat nyalahin janwenya, eh Robby yang malah diuber-uber, sampai ngumpet di pohon jambu,” ujar Robby, mengenang kelakuan kami berdua di masa kanak-kanak.

Masih ingat dalam benakku, betapa almarhum sudah sejak kecil sebagai orang yang manut. Betapa tidak, setiap diminta pulang sebelum maghrib, ia selalu patuh walau saat itu ia tengah asiknya-asiknya bermain dengan teman-teman sebaya maupun saudaraku yang lain. Sejak kecil ia memang tidak pernah membantah. Bila saudara-saudara kami yang lebih tua menyuruh Robby membeli sesuatu, ia dengan senang hati membantu membelikannya. Dengan sapu tangan merekat dibajunya (dijepit peniti), ia berjalan riang menuju tempat yang dituju untuk membeli sesuatu.

Selain itu, bila pohon jambu aku berbuah, kami ramai-ramai menaikinya, sementara Robby kecil kami minta mendadahnya di bawah dengan kain sarung. Beberapa buah jambu, sebagian Robby bagi ke teman yang lain, sebagian lagi ia kasih orang tuanya. Oh Tuhan, sebuah kenangan indah masa kecil yang membuat hati dan mata kami berurai air mata.

Namun sayang, kenangan kecil itu tidak bisa aku berbagi dengan Robby. Ia sudah meningalkan kami dalam penuh kenangan dan senyuman. Dan lagi-lagi, barang laknat (narkoba) itu mengambil satu lagi saudara kami, Robby. Sebelumnya, tiga saudaraku (seumuran Robby) juga telah tiada akibat barang laknat tersebut. Aku berdoa, semoga para bandar narkoba dan backingnya merasakan panasnya api neraka yang paling jahanam!

Selamat jalan Robby. Kamu selalu dalam kenangan kami dan teman-teman kecilmu. Semoga kebaikan dan senyumnu mendapat tempat disisi-NYA. Amien (ray)

Komentar pembaca

Tidak ada komentar