for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > Sorotan > {intl-full_coverage_by_topic} > Development > Children skip to main content
OneWorld SatuDunia home Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA SOROTAN KEMITRAAN AMBIL BAGIAN JARINGAN
22 May 2008

Mereka Tidak Mau Mengurus Bayiku

Bayi. Sumber www.images.jupiterimages.com
Apakah ini yang namanya kualat? Orang tuaku tidak merestui semua pernikahan yang aku lakukan, karena kedua pria pilihanku bukanlah orang baik-baik.

Aku berasal dari kota Jambi. Ketika SMP dan SMA aku menuntut ilmu di Jakarta. Suatu saat di tahun 2001, pada masa liburan sekolah aku balik ke Jambi, ternyata aku menemukan jodoh dan tidak pernah kembali untuk sekolah di Jakarta.

Perkenalan aku dengan Feri terasa berbeda. Saat berkenalan aku langsung falling in love. Aku termasuk anak yang pendiam dan jarang berhubungan dengan laki-laki, mungkin itu yang membuat aku buta dengan cinta.

Bagaikan magnet, Feri terasa kuat menarik aku untuk selalu dekat dengannya. Lamarannya langsung ku terima, padahal usiaku ketika itu baru 18 tahun dan aku belum lulus SMA.

Pernikahan itu tidak mendapat restu dari ayahku, namun aku tidak terlalu pusing, toh aku sendiri yang akan menjalani pikirku.

Hubunganku dengan ayah memang kurang akur, dia menikah kembali setelah ibuku meninggal. Saat itu usiaku baru sembilan tahun, aku merasa iri karena ayah lebih memperhatikan istri baru ketimbang anaknya. Sejak ayah menikah aku diasuh oleh nenek.

Seperti kebanyakan pengantin baru, aku dan Feri juga mengalami masa penyesuaian. Kami tinggal di rumah orang tua Feri, banyak hal baru yang aku tahu tentang dirinya, termasuk dia adalah bandar narkoba. Dulu, aku tahu Feri hanya pemakai saja, itu pun tidak pernah dilakukan di depan mataku.

Selain menjadi bandar narkoba, Feri juga pernah menjadi kuli bangunan dan satpam. Dua bulan menikah, aku dinyatakan positif hamil oleh dokter. Bahagia pasti, wanita mana yang tidak ingin punya anak.

Tahun 2004 aku mengandung anak kedua, setahun kemudian Feri meninggal. Sebelum itu Feri sempat sakit, namun aku tidak pernah curiga apa penyakitnya.

Istri kedua
Hidup seorang diri terasa gersang bagiku. Aku kemudian berkenalan dengan seorang pria bernama Agus. Pada Agustus 2006 aku menikah secara siri dengan Agus, untuk mengisi kekosongan hatiku.

Tapi lagi-lagi aku harus menerima kenyataan pahit, Agus telah beristri. Bahkan saat itu Dini, istrinya, tengah hamil empat bulan. Jujur, selama ini aku tidak pernah tahu status Agus. Betapa bodohnya diriku.

Awalnya Agus tidak mau mengaku. Setelah didesak, pria hidung belang itu pun membuka statusnya.

Beberapa hari kemudian, Dini datang ke rumah. Usianya jauh lebih muda dari aku. Kami sempat adu mulut. Meributkan lelaki yang sama-sama mengkhianati kami.

Dini lalu mengajukan persyaratan. Dirinya bersedia mundur asalkan aku menikah secara resmi dengan Agus. Akhirnya keluarga Agus pun datang dan kami menikah esok harinya.

Hamil
Setelah badai mereda, kusadari diriku mulai hamil kembali. Kurasa beban hidupku bertambah. Dua anak yang telah ada saja membuat aku repot, bagaimana tambah satu lagi.

Pikiran jahat bermunculan di otakku, aku harus menggugurkan kandungan ini. Minum jamu, diurut dan pil telah ku coba, tapi janin ini tidak mau juga keluar.

Aku lalu menceritakan kehamilanku pada Agus. Dia setuju mengantarku ke dokter untuk aborsi. Namun sesampai di sana, dokter tidak bersedia membantu aborsi dengan alasan takut melanggar undang-undang.

Setelah berbagai usaha gagal ku tempuh, aku mulai yakin ada tangan gaib yang menghendaki bayi ini tetap hidup.

Saat usia kandungan empat bulan, aku mendapat kabar bahwa Dini akan bunuh diri jika aku masih tinggal dengan Agus.

Ternyata pernyataan Dini ingin bercerai dengan Agus tidak dilakukannya. Ku putuskan untuk pergi dan mengontrak di daerah lain.

Aku dan Agus berpisah, tanpa ada kejelasan status perkawinan kami. Entah apa yang dapat melukiskan perasaanku saat itu, aku ingin lari dari semua ini. Kutinggalkan kedua anakku dengan ibu mertua.

Melahirkan di Jakarta
Tinggal seorang diri di rumah kontrakan membuat aku cepat sekali kelelahan, apalagi usia kandunganku mulai membesar.

Aku sempat jatuh sakit untuk beberapa waktu lamanya. Setelah kutanyakan kepada dokter Rudy yang dulu pernah memeriksaku, ia menyarankan agar aku mengikuti tes HIV di rumah sakit Centra Medika, Jambi.

Beberapa minggu setelah tes, seorang wanita bernama Lamtiar Tumanggor, SP, atau biasa disapa Choy dari Kelompok Dampingan Sebaya (KDS) Batang Hari, Jambi, meneleponku. Ia memberitahu bahwa hasil tesku sudah keluar.

Dibantu perawat Mety, konselorku, hasil kami buka, aku tidak kaget ketika dinyatakan positif HIV. Untuk lebih meyakinkan kulakukan tes kembali bersama teman KDS Batang Hari. Nyatanya tanpa keraguan hasil yang sama kudapatkan.

Sejak saat itu aku mulai diikutkan program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi alias Prevention of Mother to Child Transmmision (PMTCT) Yayasan Pelita Ilmu (YPI), Jakarta.

Mbak Choy mulai mendampingi tri semester terakhir usia kandunganku. Ia menyarankan agar aku mulai minum ARV Profilaksis, untuk mengurangi risiko penularan ke bayi yang kukandung.

Aku juga harus melahirkan secara cesar dan memberikan susu formula kepada bayiku sampai usianya satu tahun.

Pada saat akan melahirkan, pihak RSU Raden Mattaher propinsi Jambi tidak mau menerimaku untuk melahirkan di sana, dengan alasan peralatan medis tidak lengkap. Aku pun dirujuk ke RSPI di daerah Jakarta Timur. Semua biaya dan tiket pesawatku ditanggung oleh pihak Askes, yang diurus oleh RSU Raden Mattaher, Jambi.

Sabtu, 19 Mei 2007, didampingi oleh Mety, aku tiba di Jakarta.

Malam harinya aku langsung menjalani operasi cesar. Bayi perempuan dengan berat tiga kilogram lahir dengan selamat...

Bahagia, sedih dan haru bercampur dalam hatiku. Sayang, Mety tidak ada saat aku melahirkan, perawat tersebut langsung kembali ke Jambi beberapa saat setelah kami tiba di rumah sakit.

Selama di rumah sakit tersebut, tidak ada perawat yang mau melayaniku. Mereka juga tidak mau mengurus bayiku. Aku sadar bahwa aku adalah Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Apakah sehina itukah diriku di mata mereka? Sehingga mereka enggan bersentuhan denganku. Kalau pun perawat datang ke kamarku, mereka hanya melihat saja tanpa memeriksa.

Aku dan si kecil diurus oleh ibu Lilik, seorang petugas cleaning service rumah sakit. Dengan telaten dia mengurusku, bahkan semua popok bayi dan pakaianku dicuci olehnya. Semoga Tuhan membalas semua kebaikannya.

Senin pagi, 21 Mei 2007, datang dua orang karyawan YPI menemuiku. Mereka memperkenalkan diri dari program PMTCT. Selanjutnya aku banyak bertukarpikiran, mereka pun banyak menjelaskan tentang program tersebut.

Selain semangat yang diberikan agar aku tidak larut dalam kesedihan, mereka dibantu oleh ibu kader yang bernama Rima Yanti, membantu pengurusan surat-surat Askes wilayah Jakarta Utara, agar aku dapat segera keluar dari rumah sakit tersebut.

Enam hari setelah kedatanganku, tepatnya tanggal 24 Mei, aku diperbolehkan pulang. Tetapi bukan ke Jambi. Untuk sementara waktu aku harus tinggal di Jakarta.

Meskipun ada sanak keluarga di Jakarta, mereka tidak mau menerimaku sebagai ODHA. Atas usulan dari dua karyawan YPI, aku pun tinggal di Sanggar Kerja YPI, di daerah Kebon baru, Tebet.

Selama empat hari aku berada di sana. Rasa kangen dengan kampung halaman, membuatku tidak betah terlalu lama berada di Jakarta. Aku ingin pulang secepatnya.

Pernyataan dari dokter anak, agar aku sabar menunggu hingga usia bayiku satu bulan, tidak ku tanggapi. Menumpang pesawat Lion Air, Senin 28 Mei 2007, aku kembali ke Jambi.

Belum ada rencana apa yang ingin aku lakukan sesampai di sana. Hanya saja aku ingin memberikan bayi ini kepada orang yang sanggup mengurusnya.

Terima kasih untuk semua teman-teman YPI yang telah membantuku selama berada di Jakarta…….

(seperti diceritakan Yulianti kepada dua karyawan YPI, Mayanti dan Fitri)






Komentar pembaca

"Doa untuk mu"

Time: 30.11.2007 14:34

Komentar: Saya sangat terharu sekali setelah membaca email anda. GOD BLESS U...