for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > Sorotan > {intl-full_coverage_by_topic} > Development > Children skip to main content
OneWorld SatuDunia home Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA SOROTAN KEMITRAAN AMBIL BAGIAN JARINGAN
16 May 2008

Ku Dampingi Mereka Saat ke Pelaminan

Dea begitulah teman-teman memanggilku. Kini usiaku telah menginjak angka 30 tahun. Orang bilang di usia tersebut semestinya hidup kita lebih terarah, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Namun itu tidak berlaku bagiku, aku malah baru menyusun hidup karena masa lalu ku sungguh berantakan.

Pelaminan. Sumber www.destination360.com
Ditakdirkan terlahir dari keluarga ekonomi rendah, hidup kami memang serba kekurangan. Kondisi itulah yang memacuku untuk mencari nafkah sendiri. Sejak SD aku suka berdagang dengan modal seadanya, bahkan terkadang tanpa modal. Berjualan pisang goreng pun pernah kujalani. Keuntungan yang aku terima memang tidak banyak, tetapi cukuplah untuk menambah uang jajanku.

Berbeda dengan kebanyakan anak perempuan, aku bukanlah anak rumahan, artinya aku sangat tidak betah berada terlalu lama di dalam rumah. Sebagian besar waktu ku habiskan di luar, seperti nongkrong di jalan, ngobrol ngalor-ngidul dengan pengamen di terminal, di stasiun bahkan di mal-mal. Rokok dan ganja telah menemani hari-hariku sejak usia 6 tahun, sedangkan drugs dengan jarum suntik baru aku kenal ketika remaja. Pergaulan itulah yang akhirnya membuat aku terjerumus ke lembah hitam.

Melihat kelakuanku yang semakin hari semakin tidak dapat di kendalikan, pada tahun 1989 kedua orangtua terpaksa mengirimku ke rumah bude di Boyolali, Jawa Tengah. Di sana aku masuk sekolah tingkat pertama. Yayasan sekolah Kristen menjadi pilihan orang tuaku, menurut mereka sekolah tersebut menerapkan disiplin yang tinggi bagi para siswa, harapannya tentu kelakuanku yang brutal dapat diubah.

Punya Penghasilan
Selesai SMP tahun 1992 aku kembali lagi ke Jakarta, untungnya orang tuaku masih sanggup membiayaiku hingga SMA. Setelah lulus, aku langsung bekerja menjadi sales promotion girls (SPG) pada suatu pusat perbelanjaan di Jakarta Timur. Ternyata di situ aku hanya bertahan satu bulan.

Untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pekerjaan kembali. Aku pun diterima di kantor koperasi simpan pinjam pada bagian pembukuan. Di situlah aku berkenalan dengan suami yang usianya lebih muda dariku dua tahun.

Mempunyai penghasilan sendiri membuatku lebih mudah mendapatkan uang untuk membeli narkoba. Tetapi setelah menikah aku memutuskan untuk berhenti memakainya. Suamiku lah yang mendorong untuk melakukan semua itu. Ia banyak mengajarkan hal-hal positif kepadaku.

Di tengah kebahagiaan kami menjalani hidup berumah tangga, cobaan pun datang. Suamiku bertemu kembali dengan teman bandnya dulu. Jika temannya anak baik-baik mungkin aku tidak risau, tetapi kebanyakan dari mereka suka nge-drugs, peminum dan pembuat onar. Terus terang aku takut suamiku tergoda.

Ternyata dugaanku tidak meleset, nama grup band ”indie label” yang diikuti suamiku mengalami kerugian besar karena ulah temannya yang membuat onar. Nama grup band yang semula baik kini rusak, pupus sudah harapan suamiku yang ingin meraih ketenaran. Di tengah keputusasaan, suamiku mulai mencoba kembali drugs. Sampai detik terakhir kematiannya, suamiku tidak pernah jujur mengakui bahwa dirinya adalah pemakai sejak lama.

Antara percaya dan tidak pengakuannya justru menimbulkan pertanyaan baru bagiku, mungkinkah ia suka ”jajan”? Perasaanku terhadapnya berubah. Hatiku hancur antara marah, kesal, dan benci campur aduk jadi satu. Apalagi ketika kutahu ia positif HIV, rasanya seperti batu sebesar rumah yang ditimpakan di atas kepalaku. Nasi telah menjadi bubur, tak ada gunanya ku sesali.

Kondisi suamiku semakin hari kian memburuk, tahap AIDS sedang dilaluinya, jujur aku stress, tidak sampai hati aku melihatnya. Akhirnya ajal pun memisahkan kita.

Positif HIV
Setahun setelah kematiannya aku sering sakit, bayang-bayang akan kematian mulai menghantui. Aku belum siap menghadap-Nya, kehadiranku masih dibutuhkan oleh ketiga anakku. Aku harus tetap hidup demi mereka. Semangatku bangkit kembali.

Pada bulan April 1996 aku memberanikan diri untuk mengikuti VCT di puskesmas Tebet, dan aku dinyatakan positif HIV dengan CD4 hanya 12.

Di tengah kegalauan hatiku dengan status Odha, seorang dokter memperkenalkan aku dengan kelompok dukungan sebaya (KDS) yang dimiliki Yayasan Pelita Ilmu. Di sinilah aku menemukan semangat dalam menatap hidup. Ternyata aku tidak sendiri, banyak teman yang senasib dengan ku.

Kini hari-hari kulalui dengan rasa optimis, aku masih dapat berbuat banyak hal. Sehari-hari selain membantu teman bekerja di salon, aku pun sibuk di KDS. Aku juga belajar merias pengantin Sunda.

Berat badanku yang dulu hanya 35 kg perlahan-lahan naik menjadi 47 kg. Mungkin ini karena aku teratur makan dan minum obat, CD4 ku pun naik menjadi 121. Alhamdullilah Allah masih sayang padaku.

Saat ini aku hanya ingin menikmati hidup dan bertobat atas segala perbuatanku di masa lalu. Aku tidak ingin anak-anak bernasib sama denganku. Berhati-hati dan menjaga diri dalam pergaulan selalu kuingatkan kepada mereka.

Aku harus mampu melawan dan melewati semua cobaan ini, hingga suatu saat nanti aku dapat mendampingi mereka di pelaminan. Amien. (seperti yang diutarakan Dea pada Khairina dari majalah Support, terbitan Yayasan Pelita Ilmu)

Komentar pembaca

Tidak ada komentar