for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > In depth > {intl-full_coverage_by_topic} > Information & Media skip to main content
OneWorld.net_home_link Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA FOKUS KEMITRAAN INISIATIF JARINGAN
23 November 2008

select CategoryID, istopic from ( SELECT CategoryID, EXISTS (SELECT * from topics_equivalence te WHERE te.categoryid=acl.categoryid) as istopic FROM eZArticle_ArticleCategoryLink acl WHERE acl.ArticleID=152282 ) as subquery

SK Menkes Picu Kematian Pasien HIV-AIDS

Surabaya – Surabaya Post Imbas dicabutnya subsidi sebagian obat dari skema Askes masyarakat miskin (Askeskin) sungguh besar. Banyak pasien terancam pengobatannya, termasuk pasien HIV-AIDS.

Pasalnya, infus imonoglobulin yang selama ini menjadi senjata ampuh bagi mereka, masuk dalam daftar obat yang dicabut pembiayaannya oleh pemerintah. RSU dr Soetomo Surabaya menghawatirkan angka kematian yang akan kembali tinggi.

“Saat ini ada 941 pasien HIV-AIDS ditangani di RSU dr Soetomo. Tiap hari setiap pasien membutuhkan 2 botol imonoglobulin sebagai pengobatan rutin mereka,” kata Dr dr
Nasronudin, SpPD K-PTI, dokter spesialis penyakit dalam RSU dr Soetomo Surabaya, Senin (6/8) siang.

Harga tiap botol imonoglobulin Rp 2.200.000. Sementara, satu vial obat yang berisi 2,5 gram itu menjadi kebutuhan pokok yang harus diminum pasien HIV-AIDS. Dalam satu bulan, seorang pasien HIV-AIDS mendapatkan perawatan rutin selama 5 hari, dan tiap hari ia harus mengkonsumsi imonoglobulin 2 botol.

“Selama ini pemerintah hanya mampu memberikan 6 vial. Padahal kebutuhan idealnya 10 vial,” kata dr Nasronudin. “Sekarang kami menghentikan obat-obatan itu karena pasien banyak yang memakai Askeskin. Otomatis kami menunggu kepastian pemerintah tentang Askeskin yang per 1 Juli kemarin sudah menerapkan aturan baru,” ujar dr Nasronudin.

Bantuan pemerintah melalui Askeskin sangat membantu RS. Awal tahun 2007 ini, setidaknya RSU dr Soetomo Surabaya bisa menekan angka kematian sampai 17,97 %. “Kalau dulu angka kematian untuk penyakit HIV-AIDS mencapai 100%. Untungnya awal tahun kemarin kita bisa menguranggi angka kematian itu,” kata dr Nasronudin.

Dengan dicabutnya subsidi untuk obat-obatan yang masuk dalam Askeskin, dan imonoglobulin masuk di dalamnya membuat pihak RS kebingungan. Mereka khawatir angka kematian itu akan terus bertambah lagi. “Padahal awal tahun kita bisa menekan angka itu. Kami sendiri benar-benar mengandalkan dana dari pemerintah,” kata dr Nasronudin. (aha)

sumber:
http://www.surabayapost.info/detail.php?cat=3&id=57977

Daftar Komentar

Tidak ada komentar untuk kategori ini.