for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > Sorotan > {intl-full_coverage_by_topic} > Environment > Genetics skip to main content
OneWorld SatuDunia home Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA SOROTAN KEMITRAAN AMBIL BAGIAN JARINGAN
17 May 2008

Transgenik Dikhawatirkan Berdampak Buruk pada Kehidupan Sosial dan Ekonomi

Beberapa produk transgenik dikhawatirkan akan mendapat tentangan publik karena bertentangan dengan sistem nilai masyarakat. Hal ini disampaikan dr. Mangku Sitepoe pada workshop tentang transgenik di Jakarta (21/6). Dia mencontohkan, produk Ajinomoto ditolak karena diproduksi dengan menggunakan OHMG (Organisme Hasil Modifikasi Genetik) berupa gen dari hewan babi. “Penolakan itu tidak hanya berasal dari umat Islam, melainkan juga dari konsumen yang vegetarian,” lanjutnya.

Hal yang sama juga terjadi di Inggris. Pada tahun 1996 dilakukan survey untuk melihat apakah masyarakat ingin mengonsumsi produk transgenik yang menggunakan OHMG dari gen E-coli. “Hasilnya, 90% responden mengatakan tidak ingin mengonsumsinya. Alasannya, E-coli berasal dari tinja,” jelas dr. Mangku.

Sedangkan secara ekonomi, beberapa tanaman transgenik juga dinilai tidak efisien secara ekonomi. “Tanaman kapas jenis Bt (transgenik, red) di Sulawesi Selatan biaya produksinya sekitar Rp2.250 per kg. Padahal, produksi kapas sejenis di Amerika Serikat sebesar Rp6.700 per kg,” terangnya. Dengan demikian, 67% dari biaya produksi kapas Bt di Indonesia disubsidi oleh pengusaha pemasok. “Nah, pertanyaannya adalah apakah jika subsidi dicabut, pengembangan tanaman transgenik akan menguntungkan?” tanyanya.

Kekhawatiran berikutnya adalah adanya monopoli produk transgenik oleh segelintir perusahaan yang kebetulan menjadi produsen. “Surat Perwakilan Indonesia di Eropa menyatakan bahwa seluruh mata rantai produksi produk transgenik ternyata dikuasai penuh oleh negara produsen OHMG,” tegasnya.

Komentar pembaca

Tidak ada komentar