|
23 November 2008

|
 |
select CategoryID, istopic from (
SELECT
CategoryID,
EXISTS (SELECT * from topics_equivalence te WHERE te.categoryid=acl.categoryid) as istopic
FROM
eZArticle_ArticleCategoryLink acl
WHERE
acl.ArticleID=150849
) as subquery
Gessang, Mencoba Bertahan Dalam Tekanan
16 September 2006. Jarum jam di dinding Gedung Wayang Orang (WO) Sriwedari, Solo, baru menunjuk pukul 19.55 WIB. Di dalam gedung, sekitar 200 undangan terlihat antusias. Malam itu mereka memang tengah mengikuti Pemilihan Insan Peduli AIDS Surakarta (PIPAS).
Lima menit berselang, mendadak saja dua truk berisi massa meluruk masuk ke halaman parkir gedung di Jalan Slamet Ryadi itu. Begitu truk berhenti, sekitar 100 orang berbadan tinggi-tegap segera berlompatan turun.
Sebagian besar massa yang turun mengenakan topeng ala ninja. Mereka juga berseragam hijau-hijau khas paramiliter dan bersepatu lars. Pisau komando dan tongkat kayu turut melengkapi atribut mereka. Di bahu seragam mereka tertera emblem Corps Hizbullah Yon 99 Divisi Sunan Bonang Surakarta.
Seorang pemimpin massa, berpeci dan berjanggut panjang, langsung menggelar orasi di luar Gedung WO Sriwedari. “Bubarkan pemilihan Miss HIV,” seru pemimpin massa itu. Massa bertopeng segera menyambut seruan itu dengan hiruk-pikuk.
Massa bertopeng ninja juga mendesak aparat keamanan yang tengah berjaga segera membubarkan acara PIPAS yang digagas oleh Yayasan Gerakan Sosial, Advokasi dan Hak Asasi Manusia untuk Gay (Gessang) itu.
Mendengar seruan massa dari luar gedung, keruan saja para undangan yang ada di dalam Gedung WO Sriwedari langsung pucat dan gemetar ketakutan. Apalagi kebanyakan mereka adalah komunitas gay alias men who have sex with men (MSM).
Untunglah Yayasan Gessang, sebagai panitia acara, sudah mengantisipasi kedatangan kelompok pengunjuk rasa. Ratusan aparat keamanan yang sudah bersiaga sejak petang hari, segera menahan laju kelompok itu agar tidak merangsek masuk ke dalam gedung secara paksa.
“Sehari sebelum acara, kami memang sudah menerima surat dari mereka untuk membatalkan acara. Tapi panitia memutuskan jalan terus,” ujar Muhammad Slamet Rahardjo (36), Ketua Yayasan Gessang saat ditemui di kantornya, di Jalan Cokro Baskoro No 201 B, Surakarta, minggu ketiga Juni lalu. Slamet kebetulan juga didapuk sebagai Ketua Panitia PIPAS.
Slamet tak hanya bercerita. Saat bertutur, ia pun memutarkan rekaman VCD berisi dokumentasi proses demo massa lasykar Corps Hizbullah Yon 99 Divisi Sunan Bonang Surakarta tersebut.
Alhasil, Slamet selaku ketua panitia segera menemui pimpinan pengunjuk rasa. Slamet kemudian melakukan negoisasi. Dalam perundingan itu, Slamet secara tegas menolak permintaan pimpinan Corps Hizbullah Yon 99 Divisi Sunan Bonang untuk membubarkan acara.
Slamet menjelaskan ke pimpinan massa, acara yang digelar itu bukan pemilihan Miss HIV. Namun merupakan acara kampanye HIV/AIDS. Selain sudah mengantongi ijin resmi, acara itu juga dihadiri beberapa pejabat lokal dari Dinas Pariwisata dan Dinas Kesehatan Surakarta.
Untunglah, ketegasan dan penjelasan Slamet itu berbuah. Para pengunjuk rasa pelan-pelan paham bahwa acara itu bukan acara pemilihan Miss HIV. Tapi malam Pemilihan Insan Peduli AIDS Surakarta. Selain diisi hiburan dan kesenian, acara itu juga merupakan ajang kampanye tentang HIV/AIDS ke kelompok MSM.
Namun tak urung pimpinan massa, Ustad Thoriq, tetap mendesak masuk gedung untuk berorasi. Akhirnya Slamet mengijinkan Ustad Thorid dan dua pengawalnya masuk ke gedung dengan pembatasan waktu cuma 5 menit.
Dengan dikawal sejumlah aparat keamanan, Ustad Thoriq dan dua orang bertopeng ninja, masuk ke gedung. Massa selebihnya menunggu di luar. Usai berorasi selama 5 menit di atas panggung, Ustad Thoriq dan massa Corps Hizbullah Yon 99 Sultan Bonang kemudian membubarkan diri. Jarum jam Gedung WO Sriwedari saat itu sudah menunjuk pukul 20.20 WIB.
Krisis dan ketegangan selama 20 menit itu pun akhirnya berakhir. Acara PIPAS yang digagas Gessang alhasil bisa terus berjalan hingga selesai.
Kaya Intimidasi
Pengalaman intimidasi terhadap komunitas gay di acara itu memang bukan pertama kali terjadi. Dalam catatan Slamet, serangan dan intimidasi kelompok heteroseksual garis keras terhadap kelompok gay di Surakarta dan sekitarnya, sudah pernah terjadi beberapa kali.
Pada bulan Desember 1999 misalnya, sebuah pertemuan nasional kalangan gay, lesbian dan waria di Hotel Dhana, Solo, juga dibubarkan paksa oleh kelompok heteroseksual Islam garis keras. Bahkan, Ketua Gaya Nusantara Dr Dede Oetomo, sempat diburu, dan “dihalalkan” darahnya. “Saya waktu itu kebetulan tidak hadir,” terang Slamet.
Tahun 2000, acara “Kerlap-Kerlip Sekar Kedaton” yang digelar Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta di Kaliurang, juga dibubarkan paksa oleh Front Pembela Islam Yogyakarta. Acara yang dihadiri ratusan MSM dari dalam dan luar negeri itu berakhir tragis dan berdarah-darah.
Akibat serangan golok dan benda tajam lainnya, beberapa MSM yang mengikuti acara itu mengalami luka-luka. Bahkan ada yang sempat dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. “Saat itu, saya hadir. Saya selamat karena sempat kabur ke dalam hutan,” kenang Slamet.
Pada tahun 2004, pembubaran paksa serupa juga dialami kelompok MSM saat tabloid lokal Ex Hot menggelar acara pertemuan kelompok gay di Tawang Mangu. Dengan menaiki dua buah truk, massa dari Front Pembela Islam Surakarta membubarkan acara ini secara paksa.
Karena itu, Slamet merasa bersyukur acara PIPAS bulan Desember 2006 lalu bisa berakhir sukses.
Saat ditanya tentang resep keberaniannya menghadapi kelompok heteroseksual garis keras, Slamet sendiri berkata: “Kami hanya hendak berkampanye tentang HIV/AIDS di kalangan MSM. Kenapa harus takut?”
Empat Tahun
Diakui atau tidak, riwayat panjang penolakan dan intimidasi kelompok heteroseksual garis keras pada kelompok gay atau MSM ini, menjadi salah satu penyebab mengapa organisasi gay terlambat lahir di Solo.
Menurut Slamet, ia mulai masuk Solo tahun 1999. Ia pindah ke Solo saat tempatnya bekerja, sebuah perusahaan furnitur berorientasi ekspor, memindahkannya dari Surabaya. Pada saat di Surabaya, kebetulan Slamet sudah aktif selama tiga tahun di organisasi MSM, Gaya Nusantara.
Begitu masuk Solo, tutur Slamet, ia terkejut. Sebab, komunitas gay di kota itu sudah ada sejak 15 tahun lalu. Tapi perilaku seks mereka beresiko. Pengetahuan tentang infeksi HIV/AIDS di kalangan gay Solo juga masih rendah. Selain itu Slamet juga melihat komunitas MSM Solo amat rentan mengalami pelanggaran HAM.
Maka, ia mulai berpikir perlunya organisasi MSM di Solo. Yakni organisasi yang melakukan pendidikan HIV/AIDS dan melakukan advokasi pada kalangan gay.
Akhirnya, Slamet mulai mendatangi satu-persatu tokoh gay senior yang dihormati di Solo. Upaya ini diakui Slamet memang tidak mudah. Alasan pertama, komunitas gay Solo, seperti halnya komunitas gay secara nasional, mengalami trauma atas serangan kelompok heteroseksual garis keras. Karena itu mereka lebih memilih stay in the closet alias hidup tertutup.
Alasan kedua, Slamet bukan orang asli Solo. Maka motivasinya mendirikan organisasi MSM sempat menjadi pertanyaan. Namun berkat ketulusan, kerja keras dan sikapnya yang kaya humor, ia mulai berhasil meluluhkan hati para gay senior Solo satu-persatu.
Ketua Dewan Pembina Gessang, Drs Argyo Demantoto, mengamini pendapat Slamet. “Ya dulu banyak yang bilang, siapa itu Slamet? Dia kan bukan orang Solo. Kalau diserang dia bisa kabur. Bagaimana dengan kita yang ada di Solo” kata Argyo mengutip pendapat seorang tokoh gay senior.
Maka, upaya Slamet mendirikan organisasi MSM di Solo boleh dibilang terhitung berliku. “Sejak saya masuk ke Solo tahun 1999, baru tahun 2003 Gessang berdiri,” kata Slamet.
“Artinya, dibutuhkan waktu empat tahun untuk meyakinkan bahwa organisasi ini diperlukan” ujar Slamet.
Saat baru berdiri, sekretariat Gessang menumpang di sebuah rumah. Uang kas organisasi hasil patungan cuma Rp 250 ribu. Baru pada tanggal 3 Desember 2005, Slamet dan kawan-kawan mencatatkan Yayasan Gessang ke notaris sebagai badan hukum organisasi.
Dalam struktur kepengurusan Slamet duduk sebagai Ketua Yayasan Gessang. Dewan Pembina dijabat Drs Argyo Demartoto, Msi, seorang dosen. Dewan Pengawas dijabat Sapto Nugroho. Sekretaris Aris Wijanarko dan Bendahara Danang Batak Sutanto.
‘Hidup’
Setelah resmi berdiri empat tahun lalu, Gessang mulai aktif berkiprah di Solo. Di antaranya adalah siaran radio setiap hari Selasa di Radio PTPN Solo pukul 06.30-07.00 WIB. Materi utamanya masih di seputar dunia gay dan HIV/AIDS.
Lalu, mereka juga mendirikan layanan hotline tentang HIV/AIDS di nomer lokal (0271) 730676. Setiap pekan, tak kurang 20-25 telepon yang masuk. Karena keterbatasan sumber daya, layanan hotline ini masih sebatas jam kantor. Setelah jam kantor layanan hotline dialihkan ke nomer ponsel pribadi aktivis Gessang.
Gessang juga aktif melakukan penjangkauan terhadap gay dan pria penjaja seks di Surakarta. Dari estimasi Gessang kini terdapat 2.500 MSM di Solo. Dari jumlah itu 1.000 MSM sudah berhasil dijangkau, dan 500 di antaranya sudah ada datanya.
Untuk menjangkau komunitas MSM, Gessang juga mengadakan aktivitas olahraga secara rutin. Setiap Senin dan Jumat diadakan bola voli yang diikuti 20-25 MSM. Sedang hari Rabu khusus untuk olahraga tenis lapangan.
Gessang juga mengadakan diskusi bulanan. “Tapi jangan salah. Gaya yang dipakai dalam diskusi ini serius tapi santai,” papar Slamet.
Dalam penjangkauan, Gessang juga mendorong agar MSM mau melakukan Konseling dan Tes HIV Sukarela (VCT). Dari 300 MSM di Solo yang sudah menjalani Tes HIV, baru 18 MSM yang positif HIV.
Gessang juga tak hanya bekerja di kawasan Surakarta. Sebab kini Gessang dipercaya FHI/ASA untuk menjalankan program HIV/AIDS khusus MSM di 10 wilayah Jawa Tengah.
Sayangnya, aku Slamet, Gessang belum memiliki website untuk mewartakan aktivitas organisasinya. “Kami memang banyak mendapat pertanyaan kenapa Gessang belum punya website. Tapi bagaimana ya. Karena memang belum ada dananya,” ujarnya tersenyum.
Nama Gessang sendiri berasal dari kata gesang yang berasal dari bahasa Jawa. Arti gesang dalam bahasa Jawa adalah “hidup.” Alasan para pendiri, nama itu juga menandai awal kehidupan lembaga tempat bernaungnya komunitas gay di Solo dengan segala program dan kegiatannya.
Nama itu juga diambil karena memiliki kesamaan asosiasi bunyi dengan nama komponis besar pencipta lagu Bengawan Solo, Gesang. “Jadi kalau kita menyebut Gessang, orang langsung menghubungkan dengan kota Solo,” kata Slamet polos.
Lalu, sampai kapan Gessang mencoba bertahan di tengah tekanan dan intimidasi kaum heteroseksual garis keras? “Ya, kalau bisa sih, selama-lamanya,” tandas Slamet. ****
|
"image tentang gay"
Waktu: 03.03.2008 08:05
Comment: Ikut prihatin dengan apa yang saya baca dalam cerita di artikel tersebut. Menurut hemat saya memang masyarakat kitabelum bisa secara terbuka menerima perbedaan, banyak hal yang menjadi penyebab karena image yang sdh terlanjur melekat bahwa gay adalah penyakit, dan yang kita bisa tertular, tentu saja anggapan ini salah besar, tetapi yang pernah saya dan teman-2 alami adalah, di kalangan gay sendirilah yang membuat image tersebut buruk contoh kecil adalah ketika saya dan juga teman2 mau koneling di sebuah lsm ternyata ketuanya semaunya sendiri menyalahgunakan wewenang (memanfaatkan jabatannya), yang konseling malah diajak ML, alhasil orang gay yang ingin cari solusi malah tdk menemukan solusi!! ini sudah bukan menjadi rahasia umum di kota saya, bahkan parahnya si ketua yang terhormat gemar kelayapan berburu daun muda.Beberapa kali saya pernah bertemu dia mencari mangsa sambil membagi-bagikan kartu nama di sebuah pemandian umum. Tidak masalah jika itu atas nama pribadi, tetapi jika ML dilakukan di kantor ( dengan pemaksaan!), apakah ini etis
Citra gay jadi rusak karena ulah oknum orang gay itu sendiri!
|
|
 |

|
|