for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > In depth > {intl-full_coverage_by_topic} > Health > Narcotics skip to main content
OneWorld.net_home_link Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA FOKUS KEMITRAAN INISIATIF JARINGAN
23 November 2008

select CategoryID, istopic from ( SELECT CategoryID, EXISTS (SELECT * from topics_equivalence te WHERE te.categoryid=acl.categoryid) as istopic FROM eZArticle_ArticleCategoryLink acl WHERE acl.ArticleID=150622 ) as subquery

Aku, Gemuk Lagi…

Empat pemuda tampak duduk berjongkok di Puskesmas Gambir, Selasa siang pekan lalu. Saat salah satu nama dipanggil, seorang yang tengah jongkok segera berdiri. Ia lalu memasuki sebuah ruangan ukuran 2 x 2 meter.

Setelah tiba, kepalanya menjenguk ke dalam kotak loket. Dari dalam loket, sebuah daftar nama dikeluarkan. Ia lalu mengisi nama serta memberi uang Rp5.000. Tak lama berselang, dari dalam loket keluar sebuah gelas plastik putih kecil transaparan. Isinya cairan merah seperempat gelas.

Tak menunggu lama, pemuda ini langsung meneguk habis isi gelas. Sesudah meneguk, mukanya agak kemerahan. Mulutnya berdecap-decap. Ia pun langsung menuangkan air putih dalam teko dalam gelas dan menenggaknya. “Rasanya agak pahit…,” kata Roy (29), menyeringai, setelah keluar ruangan.

Ya, itulah pemandangan sehari-hari di Puskesmas Gambir sejak enam bulan terakhir. Roy, dan empat temannya, memang tengah mengikuti program terapi rumatan metadon (PTRM).

Roy sendiri mengaku sudah bosan sakauw akibat narkoba suntik jenis putauw yang ia gunakan 10 tahun lalu. Ia ingin lepas dari ketergantungan, tapi tak bisa. Kemudian enam bulan lalu ia mendengar Puskesmas Gambir membuka layanan terapi metadon. Ia tertarik mengikutinya. Dan ternyata, menurut Roy, metadon berhasil mengusir kecanduan dan sakauw-nya atas narkoba suntik.

“Dulu berat badan saya cuma 40 kg. Sekarang sudah naik jadi 53 kg,” ujarnya. “Sekarang, aku gemuk lagi…”, ujarnya meniru sebuah lagu BIP yang pernah top beberapa waktu lalu.

Roy pantas merasa senang. Sebab, kini ia tak perlu lagi bertengkar dengan keluarga karena barang-barang rumah yang ia curi untuk membeli putauw. Ia juga kini bisa produktif ketimbang saat ia masih mengalami ketergantungan pada putauw.

Dulu, papar Roy, ia bisa menghabiskan ½ gram putauw sehari. Untuk itu ia bisa menghabiskan uang sampai Rp300 ribu/hari. Sebulan, bisa Rp9 juta. Dari mana uangnya? “Ya dari mana saja. Kadang ambil barang di rumah, kadang ambil barang orang,” akunya polos.

Kini, ia cuma mengeluarkan Rp5.000/hari. Namun, manfaatnya bukan hanya itu. Sekarang ia bisa lebih produktif. “Saya sekarang bisa bekerja lagi. Orang tua menganggap perubahan saya sebagai mukjizat,” paparnya. Ia juga kini lebih tenang karena tak merasa harus bersembunyi dari kejaran polisi saat memakai putauw.

Roy tak sendiri. Ada juga Mikael (35) yang berat badannya naik 10 kg sejak mengikuti terapi metadon dua bulan lalu. Begitu juga Angie (20).

Efektivitas Metadon
Menurut Kepala Puskesmas Gambir Dr. Johana Tataung, sejak dibuka 14 Desember 2006, sudah ada 306 pecandu yang terdaftar ikut program terapi rumatan metadon. Tapi dari jumlah itu, hanya 140 orang yang masih mengikuti program.

“Ada yang pindah ke Puskesmas lain. Ada yang sudah meninggal. Selebihnya drop out (DO)," ujarnya. Menurut Johana, seorang pecandu dinyatakan DO kalau absen berturut-turut selama 7 hari.

Menurut Johana, sejauh ini sudah 51 pecandu yang mengikuti VCT dan tes HIV. Dari jumlah itu, 42 di antaranya positif HIV. “Jadi, di kawasan ini 85% pecandu positif HIV,” ujarnya.

Sedangkan data DKI Jakarta hingga 31 Maret 2007, tercatat 2.621 HIV positif. Dari jumlah itu, 1.887 atau 72% di antaranya berasal dari penggunaan jarum suntik bergantian di kalangan pengguna narkoba suntik (injection drug user/IDU).

Dari jumlah itu, Jakarta Pusat menempati peringkat teratas dalam jumlah mereka yang sudah sampai fase AIDS, yakni sebesar 1.140 kasus. Sementara, peringkat kedua ditempati Jakarta Utara dengan 707 kasus, Jakarta Barat 348 kasus, Jakarta Selatan 288 kasus, Jakarta Timur 129, dan 9 kasus lain belum diketahui domisilinya.

Dari data itu, Johana sendiri berharap agar program terapi rumatan metadon bisa dilaksanakan di 44 puskesmas kecamatan di seantero Jakarta. Sebab, sampai kemarin, palayanan metadon di puskesmas baru dilakukan di Tambora, Tanjung Priok, Gambir, Bali Mester, dan Tebet.

Sedangkan Dr. Gde Subarjo yang bertugas untuk melayani pengobatan infeksi oportunis bagi pecandu yang positif HIV di Puskesmas Gambir, merasa bersyukur.

“Dulu saya sulit sekali mendata berapa Odha (Orang dengan HIV/AIDS) yang ada di sini. Namun sejak terapi ini dibuka di Puskesmas Gambir, saya jadi lebih mudah menjangkau mereka,” paparnya.

Terapi metadon sendiri sudah mendapat legalisasi dari Badan Kesehatan Sedunia (WHO). Terapi metadon memang merupakan sebuah terapi substitusi pengganti narkoba suntik yang jadi biang keladi penyebaran HIV/AIDS.

Memang, penerapan terapi metadon sebagai pengurangan dampak buruk narkoba suntik (harm reduction), seperti buah simalakama. Bila dibiarkan, seolah seperti sebuah upaya legalisasi narkoba.

Namun di sisi lain, pemberantasan narkoba tanpa melihat fakta ketergantungan pecandu pada heroin sama saja upaya menutup mata terhadap percepatan penyebaran epidemi HIV/AIDS melalui pertukaran jarum suntik.

Sementara diskusi belum selesai, epidemi HIV/AIDS terus melonjak. Maka, dicetuskan penggunaan terapi metadon sebagai pengganti heroin yang dinilai lebih aman, karena digunakan dengan cara diminum bukan melalui media jarum suntik.

Sejarah Metadon

Metadon sendiri merupakan sintetik heroin. Metadon pertama kali ditemukan di Jerman pada saat Perang Dunia ke-II sebagai penghilang rasa sakit yang kuat. Pada tahun 1964, metadon digunakan untuk membantu pengguna heroin melepas ketergantungannya. Ini merupakan awal sejarah program terapi rumatan metadon.

Metode terapi ini kemudian berkembang ke Prancis, Swedia, Inggirs, Belanda, Hongkong, Australia, dan lain-lain. Pada tahun 2003, penggunaan terapi metadon pertama kali dikenalkan di Indonesia. Rumah sakit yang pertama kali mengenalkan metode ini adalah Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Fatmawati Jakarta dan Rumah Sakit Sanglah Denpasar.

Hal ini dilakukan menyusul lonjakan infeksi HIV di kalangan penguna narkoba suntik di Jakarta dan Bogor pada tahun 1999 dan 2002. Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) jumlah kasus HIV pada pengguna narkoba suntik naik dari 16% (19990 menjadi 48% (2001). Sedangkan di Yayasan Kita Bogor terdapat kenaikan dari 14% (1999) menjadi 45% (2001).

Meski demikian, kabarnya, di bawah permukaan terapi metadon belum diterima semua pihak. Lembaga negara yang bertugas memberantas narkoba kabarnya tidak terlalu sreg dengan program ini. Begitu juga dengan aparat keamanan.

Akan Dilarang?
Karena itulah, di kalangan pengguna terapi metadon, rumor penutupan program ini kerap menimbulkan keresahan. Seperti percakapan antara Ranu (25) dan Roy di Puskesmas Gambir akhir pekan lalu.

“Masa, metadon mau dilarang? Lalu kita mau pakai apa?” tanya pemuda asal Paseban ini ke Roy.

Roy sendiri memilih tak menjawab. Tampaknya, ia pun memiliki kegalauan serupa. Barangkali ia tengah mengenang lirik lagu BIP tentang seorang pecandu yang mulai bebas dari ketergantungannya dari putauw:

abad 20 telah pergi massanya kini berganti
hari-hari yang lalu telah mati kini aku bangun lagi

aku gemuk lagi berat badanku normal kembali
aku bisa bangun pagi melihat senyummu mentari

pacarku yang hilang kini tlah kembali mama papa ramah lagi
bisnisku lancar dompet penuh rejeki hari esok pasti berseri

aku gemuk lagi berat badanku normal kembali
aku bisa bangun pagi mentaripun tersenyum lagi
aku gemuk lagi berat badanku tambah lagi
aku gemuk lagi hidupku kini lebih berarti

saat malam hari aku tidur nyenyak sekali
sampai kutermimpi bukan mimpi yang dulu lagi

aku gak sakau lagi kini aku kaya lagi
aku gemuk lagi perutku normal kembali
aku gemuk lagi berat badanku normal kembali
aku gemuk lagi perutkupun buntal...


Daftar Komentar

Tidak ada komentar untuk kategori ini.