for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > In depth > {intl-full_coverage_by_topic} > Health skip to main content
OneWorld.net_home_link Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA FOKUS KEMITRAAN INISIATIF JARINGAN
23 November 2008

select CategoryID, istopic from ( SELECT CategoryID, EXISTS (SELECT * from topics_equivalence te WHERE te.categoryid=acl.categoryid) as istopic FROM eZArticle_ArticleCategoryLink acl WHERE acl.ArticleID=150567 ) as subquery

Demo Hari Anti-Narkoba: Pecandu Itu Korban

Jakarta, SatuDunia. Bila tak ada halangan, Senin (25/6) pagi ini, sekitar 200 pecandu narkoba se-Jabodetabek, akan menggelar demo di Gedung DPR/MPR RI. Aksi ini digelar berkenaan dengan Hari Anti-Narkoba tanggal 26 Juni.

Aksi itu sendiri digelar oleh Forum Korban Napza dengan tema “Pecandu Itu Korban, Bukan Kriminal.” Kordinator aksi, Budi Russtyabudi Darma Adi, saat dihubungi akhir pekan lalu, membenarkan rencana aksi tersebut.

Menurut Budi, aksi tersebut digelar karena selama ini peringatan Hari Anti-Narkoba oleh aparat Negara hanya menjadi perayaan seremonial belaka. Kampanye-kampanye antinarkoba yang digelar Badan Narkotika Nasional juga dinilai lebih banyak salah sasaran.

“Boleh dibilang kampanye-kampanye itu hanya membuang-buang anggaran. Yang lebih parah, kampanye-kampanye itu lebih banyak menyudutkan pecandu seolah sebagai pelaku kriminal, bukan sebagai korban,” ujarnya.

Budi lalu menjelaskan, salah satu yang menjadi sasaran kritik adalah target yang dibuat oleh polisi untuk menggulung pecandu. Tapi, masalahnya, penangkapan yang dilakukan polisi tidak pandang bulu.

Para pecandu yang tengah ikut program pengurangan dampak buruk penyebaran HIV/AIDS (harm reduction) lewat pertukaran jarum suntik steril turut digulung. “Ini terjadi karena jarum suntik steril dianggap barang bukti,” ujarnya.

Para pecandu yang tengah menjalani program harm reduction ikut dijebloskan ke penjara, bukan dimasukkan panti rehabilitasi. Akibatnya, penjara penuh dengan pecandu. Apalagi, di dalam penjara, mereka masih tetap menggunakan narkoba.

Dampak lanjutannya, kata Budi, sudah bisa ditebak: penjara menjadi salah satu penyebaran epidemi HIV/AIDS karena pertukaran jarum suntik pecandu secara berganti-ganti.

“Penjara malah membuat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) jumlahnya semakin banyak. Banyak di antara mereka kemudian meninggal dunia. Ini menunjukkan bahwa pemenjaraan pecandu seperti yang dilakukan polisi dan Badan Narkotika Nasional (BNN) tidak efektif,” ujarnya.

Tersudut
Salah seorang pecandu yang ikut dalam demo itu, Heru Pribadi, juga mengaku merasa jengah dengan kampanye antinarkoba yang dibuat BNN. Pasalnya, kampanye tersebut bukan membantu pecandu untuk keluar dari kecanduannya, melainkan malah makin mempertebal stigma buruk pecandu di kalangan masyarakat.

“Promosi besar-besaran yang dilakukan BNN membuat pecandu yang ikut program pertukaran jarum suntik steril jadi merasa tersudutkan,” ujarnya. Padahal, pertukaran jarum suntik steril menurutnya cukup positif untuk membendung laju epidemi HIV/AIDS yang menyebar lewat jarum suntik bergantian.

Sementara itu, Sekjen Jaringan Aksi Nasional Pengurangan Dampak Buruk Napza Suntik (Jangkar), Sharul Syah, saat dihubungi terpisah, menilai, aksi yang digelar Forum Pecandu Napza ini merupakan hal yang wajar terjadi.

Banyaknya pecandu sekaligus ODHA yang meninggal di penjara karena infeksi oportunis, kata Sharul, menunjukkan memang ada sesuatu yang salah di penjara. “Mungkin karena sistem sanitasinya buruk,” ujarnya.

Sahrul juga berpendapat, pertukaran jarum suntik steril sebagai cara menekan laju penyebaran HIV/AIDS memang kerap dirasa tak penting. Apalagi jika dibanding isu-isu sosial lainnya seperti korupsi.

“Karena itu, diperlukan kesadaran untuk memperkuat jaringan dan konsistensi untuk memperjuangkan itu semua,” tegasnya. ***

Daftar Komentar

Tidak ada komentar untuk kategori ini.