Penderita HIV/AIDS Dilarang Masuk Australia
|
Sidney, SatuDunia. Sebuah keputusan mengejutkan keluar dari Negeri Kangguru baru-baru ini: Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dilarang masuk Australia. Sikap ini dinyatakan secara terbuka oleh Perdana Menteri (PM) Jhon Howard seperti dikutip harian The Age edisi Sabtu (2/6).
Lucunya, keputusan Howard diambil tanpa mengabaikan nasehat dua menterinya di bidang kesehatan dan imigrasi. Kedua menteri itu kabarnya sudah memberitahu Howard bahwa imigran yang positif HIV, bukanlah suatu ancaman. Selain melarang ODHA, Howard menegaskan bahwa larangan memasuki Australia juga diberlakukan bagi imigran penderita kusta. “Menurut saya, cara terbaik adalah tak mengijinkan seorang pun dengan gejala penyakit seringan apa pun untuk memasuki negeri ini,” kata Howard dalam sebuah wawancara radio. “Saya akan segera melakukan evaluasi atas situasi sekarang, dan saya akan membuat prosedur di negara ini sejauh yang dimungkinkan agar hal itu (ODHA masuk ke Australia) tidak lagi terjadi. Kami akan melakukannya minggu depan atau secepat mungkin,” ujarnya. Ironisnya, pekan ini juga, sebuah surat dari Menteri Kesehatan Tony Abbott dan Menteri Imigrasi Kevin Andrews, telah menasehati PM Howard bahwa ODHA tak boleh dicegah untuk datang ke Australia. Harian The Age meyakini, isi surat kedua menteri itu telah memberitahu Howard bahwa HIV, berbeda dengan penyakit TBC yang ditularkan melalui udara, tidak mudah menular. Dan pelarangan bagi ODHA masuk ke Australia adalah sebuah tindak diskriminasi. Harian ini juga percaya, PM Howard telah diberi informasi bahwa para imigran tak memiliki pengaruh signifikan pada peningkatan infeksi HIV di Australia. Pada tahun 2005, misalnya, hanya 2 % dari 928 kasus infeksi HIV baru yang ada kaitannya dengan orang asing. Dan separuh dari angka penderita HIV baru itu, kebanyakan adalah orang Selandia Baru dan Australia sendiri. Maka, komentar PM Howard itu langsung memicu kecaman para pakar AIDS. Direktur Eksekutif Organisasi AIDS Federasi Australia (AFAO) Don Baxter menyatakan amat terkejut mendengar pernyataan PM Howard. Sebab, komentar itu justru bertentangan dengan nasehat menteri di kabinetnya sendiri. ”Kemungkinan besar Perdana Menteri tak punya waktu membaca analisa para menterinya yang mengatakan belum perlu perubahan kebijakan,” kata Baxter. Karena itu Baxter menuturkan, pernyataan bahwa para pendatang dan pengungsi akan berdampak pada peningkatan infeksi HIV, harus diabaikan. Tapi Baxter mengakui, “Sekarang sangat sulit bagi ODHA berimigrasi ke Australia. Mereka semua mengalami penolakan. Mereka kemudian mengajukan banding, namun hanya beberapa yang disetujui permohonannya,” terangnya. Celakanya, lanjut Baxter, banyak imigran yang ditolak itu adalah suami atau istri dari orang Australia sendiri. “Jadi, saya sungguh tidak mengerti mengapa Perdana Menteri hendak menerapkan larangan itu termasuk pada keluarga asal Australia. Menurut saya hal itu sangat tidak masuk akal,” ujarnya. Sementara itu, kelompok HIV/AIDS internasional telah meminta Howard menjelaskan bagaimana nasib permohonan visa para ODHA yang akan datang ke Sidney 23-25 Juli depan untuk mengikuti sebuah seminar. Apakah visa mereka juga akan dicekal. Sedangkan sebuah surat dari Kelompok Perawatan AIDS Eropa mengecam Howard karena telah “memperkokoh stigma pada Orang dengan HIV/AIDS.” Mereka juga menuduh PM Howard kembali mundur ke abad 19 dengan menjalankan politik isolasi. “Kami melihat rencana Anda beserta tujuannya. Kami menduga, rencana itu murni untuk mencari popularitas, dan tanpa disertai penghormatan pada kami yang tengah berjuang keras melawan penyakit yang sedang kami derita.” |


