Meniadakan Kaletra Sama Saja Membunuh Kami
|
Saya mengonsumsi kaletra sudah tujuh bulan. Satu sampai dengan enam bulan, kombinasi obat saya adalah Stavudine dan Lamivudin.
Pada waktu itu, sebelum mengonsumsi Kaletra, sel darah putih atau CD4 saya 30. Setelah empat bulan mengomsumsi Kaletra, CD 4 saya bertambah menjadi 238. Kenapa saya memilih mengonsumsi Kaletra? Karena, CD4 saya turun terus-menerus dan tidak ada peningkatan satu poin pun. Sehingga, saya berpikir bahwa virus yang ada di tubuh saya sudah resisten. Selain itu, yang saya tahu, Kaletra sudah disubsidi Pemerintah yang bisa diakses dengan gratis. Maka, saya meminta kepada dokter yang menangani saya untuk mengganti obat dari Neviral ke Kaletra, walaupun di Indonesia belum ada layanan untuk tes resisten. Saat ini, saya mengonsumsi obat yang bernama Videx, Tenofovir , dan Kaletra. Setelah mengonsumsi Kaletra, yang saya rasakan kondisi badan saya jauh lebih sehat, tidak mudah sakit. Berat badan saya bertambah, napsu makan bertambah. Tenaga saya pun bertambah. Saya sangat khawatir dengan informasi bahwa persediaan Kaletra di Indonesia hanya untuk 8 bulan ke depan. Bagaimana untuk selanjutnya, saya tidak tahu!! Teman-teman lain yang mengonsumsi Kaletra juga mengalami kecemasan yang sama. Apalagi, dalam mengakses obat tersebut, mereka juga harus bolak-balik untuk mengambil obat. Saya sering berpikir, sampai kapan keadaan ini berakhir?!! Saya sendiri awalnya mendapat Kaletra untuk sebulan sekali. Tiba-tiba, saya mendapat obat hanya untuk 10 hari sekali. Pernah saya cuma mendapat jatah hanya untuk dua hari sekali. Padahal, rumah saya dan rumah sakit cukup jauh. Saya mencoba mewakili perasaan teman-teman yang juga merasakan saat-saat minimnya persediaan Kaletra. Saya juga sangat berharap agar ke depan sampai seterusnya tetap ada persediaan Kaletra. Selain itu, menurut saya, persedian obat Kaletra harus tetap ada, baik yang paten maupun yang generik. Karena, orang yang sudah mengonsumsi antiretroviral (ARV) lini 1 kemungkinan besar akan mengonsumsi ARV lini 2 (yang salah satunya Kaletra). Jadi, menurut saya, jika obat tersebut ditiadakan, itu sama saja membunuh orang yang terinfeksi HIV. Mudah-mudahan, pejabat yang bertanggung jawab atas ketersedian obat tersebut berbaik hati untuk membuka diri dari kebutuhan yang saya dan teman-teman lain yang mengalaminya. Stella (33) adalah seorang aktivis di Stigma Foundation. |


