|
23 November 2008

|
 |
select CategoryID, istopic from (
SELECT
CategoryID,
EXISTS (SELECT * from topics_equivalence te WHERE te.categoryid=acl.categoryid) as istopic
FROM
eZArticle_ArticleCategoryLink acl
WHERE
acl.ArticleID=149722
) as subquery
Temmy dan Jurnalisme yang Terlibat
Judul: Jika Ia Anak Kita, AIDS dan Jurnalisme Empati
Penulis: Irwan Julianto
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Mei 2003
Halaman: xxxvi + 380
Namanya Temmy Kusuma. Saat berumur 15 tahun ia telah berhasil menyabet medali emas loncat indah di SEA Games Manila tahun 1991. Prestasi serupa ia ulangi di Sea Games Singapura tahun 1993 dan Sea Games Chiangmay tahun 1995.
Namun belakangan prestasi Temmy melorot. Pada PON tahun 2000 di Surabaya, ia hanya berhasil meraih medali perunggu. Lalu, 1 November 2001, mendadak saja peloncat indah ini dikabarkan meninggal dunia.
Sebagai atlet, Temmy meninggal dunia dalam usia muda. Ia wafat dalam usia 25 tahun karena komplikasi penyakit jantung, paru, dan hati. Belakangan, baru diketahui, penyakit itu timbul karena kebiasaannya menggunakan narkoba jarum suntik.
Menurut pengakuan ibu kandungnya, diam-diam Temmy mulai mengenal Napza (narkotik, psikotropik, dan zat adiktif lainnya) sejak tahun 1997. Barang itu ia kenal akibat pergaulan sesama atlet di hotel bilangan Senayan.
Pada saat-saat terakhir hidupnya, Temmy diketahui menggunakan narkotik jenis putauw (heroin kualitas kelas tiga) dengan jarum suntik. Maka, tidak mustahil Temmy mengalami kerusakan ginjal dan koinfeksi virus hepatitis (HCV) dan HIV yang biasa dialami pengguna narkotika jarum suntik (hlm. 359-360).
Kisah Temmy hanyalah satu dari belasan cerita sedih orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di buku ini. Namun, dengan memaparkan fakta-fakta tragis dan ironis itu, penulis buku sesungguhnya tidak sedang menghukum Temmy.
Dengan mengutip pernyataan psikolog atlet Joyce Djaelani Gordon dalam tulisannya tentang Temmy itu, penulis buku justru secara halus menyelipkan sikapnya, "Kita tak boleh menyalahkan korban Napza seperti Temmy. Ia adalah korban keadaan, yaitu maraknya perdagangan Napza."
Pertama
Memang, empati Irwan Julianto pada ODHA terasa kental di buku ini. Hal ini juga yang ia bawa saat menjadi wartawan Indonesia pertama yang meliput ledakan AIDS di Thailand bulan Mei 1991.
Dalam reportasenya di Thailand, Irwan menceritakan pengalamannya sebagai jurnalis saat menyaksikan seorang bayi berusia 9 bulan terkena HIV di Rumah Sakit Bamrasnaradura, Bangkok. Menurut Wakil Direktur RS, dr Chaipron Rojanawasiriwet, bayi tersebut akan meninggal paling lambat dua hari lagi. (hlm. 15).
Dalam tulisannya yang diterbitkan 10 tahun lalu, Irwan Julianto memang tak menuliskan kesan pribadinya. Namun, fakta itu nyatanya tak terlupakan oleh Irwan. Sepuluh tahun setelah peristiwa itu, dalam kata pengantar bukunya, Irwan mengaku dirinya amat terpukul.
"…Yang paling tak bisa saya lupakan adalah menyaksikan seorang bayi laki-laki kurus kering sedang menatap saya di RS Bamrasnaradura, tak jauh dari kota Bangkok. Menurut wakil direktur rumah sakit itu, bayi yang terjangkit AIDS itu paling lama hanya dapat bertahan hidup satu dua hari lagi. Napas bayi itu memang tampak tersengal-sengal…. Jika saja bayi itu anak kita….," tulis Irwan (hlm. xii).
Karenanya, bukan sebuah kebetulan bila penulis buku ini menggunakan kalimat pengandaian terakhir itu sebagai judul bukunya ini, Jika Ia Anak Kita.
Buku ini sendiri merupakan kumpulan liputan Irwan Julianto selama 11 tahun, antara tahun 1991 dan 2001. Termasuk juga sejumlah makalah wartawan senior Kompas ini tentang AIDS dan Jurnalisme AIDS yang pernah dia presentasikan dalam sejumlah seminar dan pelatihan. Untuk memudahkan pembaca, buku ini terbagi dalam sembilan bab secara tematik dan disusun secara kronologis.
Historiografi AIDS
Buku ini menarik, karena liputan dan makalah Irwan membantu pembaca mengingat kembali sejarah perkembangan HIV/AIDS di Indonesia. Buku ini karenanya seperti menjadi sebuah ‘historiografi’ HIV/AIDS di Indonesia.
Dalam salah satu makalahnya, Irwan mencatat ada empat peristiwa menonjol dalam peliputan HIV/AIDS di Indonesia selama kurun 1991-2001.
Pada tahun 1991, ada Kasus Dolly, saat seorang wanita muda pekerja seks diketahui mengidap HIV sehingga dikejar-kejar aparat. Yang kedua, Kasus Ervin ‘Magic’ Jhonson, pebasket terkenal Amerika Serikat yang tahun 1994 menggegerkan publik atas pengakuannya bahwa ia terinfeksi HIV.
Kasus ketiga, Kasus RS Medistra, terjadi pada Agustus 1995, saat dr. Sjamsuridzal Djauli, dokter sekaligus salah seorang pelopor aktivis AIDS, dilarang berpraktik di salah rumah sakit swasta itu karena aktivitasnya. Namun, karena desakan media massa dan publik, akhirnya rumah sakit itu mengizinkan dr. Sjamsuridjal berpraktik. Yang terakhr adalah Kasus Kontroversi Kondom, saat Menko Kesra Azwar Anaz menyatakan kondom tak efektif mencegah HIV/AIDS (hlm. 330-335).
Penulis buku ini memang boleh dibilang sebagai pelopor peliputan AIDS. Selain merupakan salah satu pionir wartawan Indonesia yang mempelajari AIDS secara khusus, fakta menarik lainnya tentang penulis buku ini adalah cerita Ashadi Siregar tentang latar belakang Irwan Julianto.
Pembuangan
Dalam kata pengantarnya, Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y) ini menuturkan, Ashadi pertama kali bertemu dengan penulis buku ini di Surabaya.
Menurut Ashadi, keberadaan penulis buku ini di Surabaya sesungguhnya dalam rangka "pembuangan". Pasalnya, sebagai jurnalis muda, Irwan Julianto kebetulan terlibat dalam upaya mendirikan serikat pekerja di Kompas. Upaya itu jelas ditolak manajemen, sehingga untuk sementara Irwan 'diamankan' di Surabaya (hlm. xxix).
Namun, seperti kata pepatah, setiap celaka terkadang memiliki makna. Nyatanya, di balik 'musibah' pembuangan itu, Irwan justru beruntung.
Sebab, pada akhir 1991, ia justru meledakkan Kasus Dolly. Sebuah peristiwa yang membuka mata seluruh bangsa bahwa HIV/AIDS yang selalu dibantah keberadaannya oleh pejabat Indonesia ternyata telah berada di garis belakang negara ini.
Pembuangannya ke Surabaya ini jugalah yang membawa Irwan terlibat dalam peliputan lebih intens dan serius mengenai AIDS, tanpa terjebak dalam sensasi.
'Sang Pemula'
Irwan akhirnya, menurut Ashadi, seperti menjadi ‘Sang Pemula’ bagi jurnalisme AIDS di Indonesia. Khususnya dalam penerapan jurnalisme terlibat, yakni sebuah jurnalisme dengan compassion (empati).
Empati ini pula yang kemudian membawa penulis buku ini kemudian terlibat aktif dalam pendirian sejumlah organisasi non-pemerintah, seperti menjadi anggota presidium Forum Komunikasi LSM/Organisasi Peduli AIDS dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
Karena itu, dalam kata pengantarnya, Ashadi beberapa kali menegaskan, “Kompas sungguh beruntung memiliki Irwan Julianto.” (hlm. xxxiv)
|
Tidak ada komentar untuk kategori ini.
|
 |

|
|