Medan Plus Kikis Stigma Buruk HIV/AIDS
|
Orang terjangkit HIV/AIDS banyak yang terkucil dari masyarakat. Apalagi sejauh ini tim medis belum menemukan obat yang bisa membunuh virus mematikan itu. Kenyataan inilah yang membuat orang dengan HIV/AIDS (Odha) berkumpul dan mendirikan suatu lembaga yang diberi nama Medan Plus.
“Kita berharap dengan dibentuknya lembaga ini (Medan Plus), stigma buruk masyarakat terhadap HIV/AIDS dapat terkikis,” ujar Eban Totonta Kaban. Selaku koordinator lembaga yang menaungi para Odha, Eban berharap kepada khalayak ramai untuk tidak mengucilkan Odha. “Justru mereka membutuhkan dorongan dan semangat kita agar mereka dapat bertahan dari virus maut itu,” kata Eban. Dijelaskannya, sejauh ini Odha yang membentuk Medan Plus berharap agar lembaga ini bisa membantu dan menampung para Odha guna memberikan dukungan. Diyakini, kalau dukungan bisa membuat para penderita HIV/AIDS mempunyai semangat untuk melawan virus yang menggerogoti tubuhnya. Salah satu contoh, seorang pria berumur 28 tahun yang positif terjangkit HIV/AIDS melalui jarum suntik. Berkat dorongan dan suports yang diberikan Medan Plus, hingga kini pria itu mampu bertahan. “Kalau di rumah sakit, pasien yang dirawat hanya diberikan obat tanpa arahan dan suports. Sehingga sang penderita hanya bisa pasrah menunggu azalnya,” jelas Eban. M Nurrasyid Lubis, Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan sangat mendukung kegiatan organisasi sosial itu. “Selagi program itu positif, IDI sangat mendukung program-program LSM Medan Plus,” kata Nurrasyid. Upaya penanggulangan penyebaran HIV/AIDS telah lama dilakukan, termasuk di Medan. Namun, hal itu belum menampakkan hasil yang maksimal. Indikasinya, masih saja ditemukan penderita HIV/AIDS yang telah akut. “Semua itu tidak terlepas dari stigma (anggapan) buruk masyarakat terhadap Odha. Karenanya, stigma itu harus dihilangkan,” ujar Indah Kemala Hasibuan, Konselor Klinik VCT RSU dr Pirngadi Medan kepada Harian Global pertengahan Oktobr silam. Dikatakannya, masyarakat masih beranggapan Odha terinfeksi virus ini dikarenakan kelakuan buruk mereka sendiri yang suka mengonsumsi narkoba dan melakukan seks bebas, sehingga tidak perlu dibantu. Anggapan inilah yang membuat penderita atau masyarakat umum enggan memeriksakan diri. “Padahal, tidak semua penderita HIV/AIDS itu pengguna narkoba atau pelaku seks bebas. Saat ini banyak ditemui kasus terinfeksi virus mematikan ini berprofesi sebagai ibu rumahtangga dan orang yang tidak memiliki resiko tinggi dalam kesehariannya,” sebut Indah yang juga Kepala Instalasi Informasi dan Gangguan Masyarakat RSU dr Pirngadi Medan. Ditambahkannya, mereka tertular dari pasangan hidup yang rentan dengan penularan HIV/AIDS atau dari transfusi darah yang tidak steril. Makanya, penyakit ini tidak perlu lagi ditutupi dan sudah menjadi hal yang biasa. “Siapa saja bisa tertular, termasuk diri kita sendiri. Untuk kepastian dianjurkan tes darah dan konsultasi ke klinik VCT,” kata Indah. Dikatakannya, penderita harus didampingi, dirawat dan diobati, bukan dijauhi dan dikucilkan. Selaku konselor VCT, Indah siap menerima konsultasi dari masyarakat luas yang membutuhkan informasi dan pendampingan, khususnya kepada ibu-ibu rumah tangga dan penderita HIV AIDS. Sumber: Harian Global, Medan |


