for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > In depth > {intl-full_coverage_by_topic} > Development skip to main content
OneWorld.net_home_link Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA FOKUS KEMITRAAN INISIATIF JARINGAN
01 December 2008

select CategoryID, istopic from ( SELECT CategoryID, EXISTS (SELECT * from topics_equivalence te WHERE te.categoryid=acl.categoryid) as istopic FROM eZArticle_ArticleCategoryLink acl WHERE acl.ArticleID=144592 ) as subquery

Negara Harus Lindungi Pertaniannya

Perdagangan bebas dalam pertanian semakin menyudutkan petani. Para petani tidak mampu bersaing dengan sumber pangan impor yang jauh lebih murah. Jika pemerintah tidak menerapkan kebijakan yang melindungi sektor pertaniannya maka Indonesia akan sulit mencapai ketahanan pangan.

Hal ini disampaikan oleh Faisal Basri saat hadir sebagai pembicara dalam dalam acara bertajuk Semarak Pangan Lokal di area Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang diadakan pada akhir 2006. Acara ini terselenggara atas kerjasama Bina Desa dan KRKP (Koalisi Rakyat Untuk Kedulatan Pangan).

Dalam acara itu, Faisal Basri mengatakan bahwa kita harus menghindari terputusnya pengetahuan generasi muda terhadap pangan lokal. “Jangan sampai anak-anak kita terbiasa dengan McD dan KFC, tapi asing dengan pangan lokal seperti ketoprak ataupun rujak cingur,” ujarnya.

Agar pangan lokal tetap bertahan, pemerintah perlu menjalankan kebijakan yang melindungi pertaniannya. Jika pada jaman orde baru pemerintah membeli gandum dari Amerika dan menjualnya kepada rakyat Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah dari harga belinya, sekarangpun pemerintah harus berani beli mahal dari petani, dan jual dengan harga murah kepada rakyat.

Dalam diskusi muncul kritik terhadap hasil penelitian selama ini yang menunjukkan bahwa negara barat bisa maju karena mereka menggunakan sistem perdagangan bebas. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional yang membandingkan antara negara maju dengan negara berkembang dalam kurun waktu yang sama.

Studi semacam ini seharusnya menggunakan pendekatan historis yang memperhitungkan sejarah negara maju sebelum sampai ke kondisi perekonomian yang kuat seperti sekarang. Menurut Faisal, negara-negara maju sebelumnya juga menerapkan proteksi terhadap hasil-hasil pertaniannya. Baru setelah pertaniannya di dalam negerinya cukup kuat, mereka membebaskan perdagangannya.

“Inggris bikin corn act pasca perang untuk melindungi produksi jagungnya. Perancis misalnya melindungi produksi kejunya. Sehingga sekarang mereka punya banyak sekali varian keju,“ ujar Faisal. Perancis memang terkenal sebagai negara yang kaya akan jenis kejunya. Dari 700 an jenis keju yang beredar di dunia, kurang lebih 300 diantaranya adalah keju Perancis.

Pangan Lokal Buka Lapangan Kerja
Faisal menambahkan, seharusnya kebijakan pertanian diarahkan pada industri dan riset yang mendukung pertanian. Kebijakan pembangunan yang dilaksanakan selama ini masih berkutat pada industri dan infrastruktur. “Kita terlalu sibuk bangun subway, monorail, jembatan dan pembangunan fisik lainnya,” ujarnya.

Padahal menurut dosen ekonomi Universitas Indonesia ini, pembangunan seharusnya diarahkan untuk menyentuh lapisan yang terendah dari yang terendah. Ia mencontohkan seperti yang dilakukan Muhammad Yunus dan Bank Grameen yang menerima nobel baru-baru ini. “Jadi keuntungan tidak hanya berputar di pemodal saja.”

Maka dari itu Faisal setuju bahwa semangat pangan lokal perlu untuk didukung. Karena dengan meningkatkan konsumsi pangan lokal, dengan sendirinya industri pangan lokal akan terbangun dan berikutnya akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Jika pangan lokal bisa dikembangkan di pedesaan, penduduk desa tidak perlu melakukan perpindahan ke kota karena lapangan kerja tersedia di desa. “Kalau banyak tenaga kerja yang terserap, urbanisasi tidak perlu ada,” ujarnya menutup pembicaraan.

Daftar Komentar

Tidak ada komentar untuk kategori ini.