for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > In depth > Sorotan > HIV/AIDS > Jentera > Kolom skip to main content
OneWorld.net_home_link Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA FOKUS KEMITRAAN INISIATIF JARINGAN
01 December 2008
Hivos
European Union
Ford Foundation

select CategoryID, istopic from ( SELECT CategoryID, EXISTS (SELECT * from topics_equivalence te WHERE te.categoryid=acl.categoryid) as istopic FROM eZArticle_ArticleCategoryLink acl WHERE acl.ArticleID=144590 ) as subquery

Jawa Barat dalam Cengkeraman AIDS

MASYARAKAT global memperingati tanggal 1 Desember sebagai Hari AIDS Sedunia. Namun jauh hari sebelumnya, sudah banyak bahasan dan acara seputar AIDS. Besar kemungkinan kondisi seperti ini akan terus berlangsung, sekalipun hari istimewa tersebut telah berlalu.

Meluapnya atensi dunia terhadap masalah AIDS, tak lepas dari begitu dahsyatnya ancaman penyakit ini terhadap kehidupan manusia, terutama mereka yang masih dalam usia produktif, para generasi muda.

Ancaman HIV/AIDS
Menurut AIDS Epidemic Update 2005, yang diterbitkan di New Delhi pada November 2005, jumlah total orang yang hidup dengan human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) telah mencapai 40,3 juta orang, terus meningkat dibandingkan tahun - tahun sebelumnya. Pada tahun 2003 misalnya, jumlahnya masih 37,5 juta, meningkat menjadi 39,4 juta orang pada tahun 2004. Kecuali di Karibia, peningkatan ini terjadi di seluruh kawasan dunia, termasuk di Indonesia.

Memang benar bahwa angka prevalensi HIV/AIDS di Indonesia terbilang rendah (kurang dari 0,1 persen), namun sungguh tidak tepat bila kemudian kita bersikap tak peduli karena proses transmisi HIV/AIDS di Indonesia cukup cepat. Bahkan, sejak tahun 2000 Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan tingkat epidemi terkonsentrasi HIV/AIDS karena terdapat kantong-kantong dengan prevalensi lebih dari 5 persen pada beberapa populasi. Apalagi bila ditinjau dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta orang.

Sejak ditemukan untuk pertama kalinya pada 1987 di Bali, pada seorang wisatawan dari Belanda, hingga September 2005 tercatat sedikitnya ada 8.251 kasus HIV/AIDS, yaitu 4.065 kasus HIV dan 4.186 kasus AIDS. Angka ini hanyalah yang tercatat di atas kertas. Angka sesungguhnya sangatlah besar, diperkirakan mencapai 90.000 - 130.000 kasus. Jumlah ini dipastikan akan terus bertambah. Bahkan bila tidak dilakukan intervensi apa pun maka jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia pada tahun 2010 akan mencapai 5 juta kasus. Sedangkan bila ada upaya pencegahan, angka tersebut bisa ditekan menjadi sekira 1 juta kasus. Tidak ada satu pun provinsi yang terbebas dari HIV/AIDS. Demikian juga dengan Jawa Barat.

Malahan Jawa Barat termasuk dalam jajaran juara, menduduki ranking ketiga, setelah DKI Jakarta dan Papua/Irian Jaya. Sejak kasus HIV/ AIDS pertama kali ditemukan di Jawa Barat pada 1989, angka kejadiannya meningkat sangat pesat hingga Juni 2005 sudah ditemukan 1.310 kasus HIV/AIDS dengan perincian 268 penderita AIDS dan 1.042 pengidap HIV. Padahal, akhir tahun 2004, tercatat baru ada 719 kasus dengan perincian HIV positif 673 kasus, dan AIDS 46 kasus. Itu berarti, dalam enam bulan ini telah terjadi penambahan 591 kasus atau rata-rata 99 orang/bulan. Mengacu pada fenomena gunung es, diperkirakan jumlah penderita HIV/AIDS di Jawa Barat sekira 30.000 orang. Dengan konsentrasi utama di daerah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Tingginya pertumbuhan HIV/AIDS di Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh dua hal yaitu meningkatnya jumlah pengguna narkoba dengan jarum suntik (Injection Drug User - IDUs/penasun) serta maraknya seks bebas. Kedua hal ini merupakan “pintu kembar” bagi penyebaran HIV/AIDS di Jawa Barat.

Pintu kembar
Jawa Barat termasuk dalam jajaran provinsi dengan jumlah pengguna narkoba yang besar. Yang tampak dari terus meningkatnya kasus narkoba. Hal ini tak lepas dari letak geografisnya yang dekat dengan ibu kota yang membuat gaya hidupnya pun tidak berbeda dengan gaya metropolitan. Tidak berlebihan bila Jawa Barat menduduki peringkat ketiga (setelah Jakarta dan Bali) dalam hal prevalensi HIV pada subpopulasi penasun. Sedangkan untuk prevalensi HIV pada subpopulasi PSK, Jawa Barat menduduki posisi kelima setelah Papua, Batam, Riau, Biak.

Untuk Kota Bandung saja, sampai Agustus 2005, jumlah penasun diperkirakan mencapai 6.000 - 9000 orang. Padahal, justru melalui jarum suntiklah penularan virus HIV/AIDS terjadi paling efektif. Kalau berhubungan seksual dengan yang menderita HIV/AIDS, kemungkinan risiko tertular HIV/AID 0,1 persen. Sedangkan jika bertukaran jarum suntik, risiko tertular virus HIV/AIDS hingga 20 persen. Tidak aneh bila penasun memberikan andil sebesar 61 persen bagi prevalansi HIV/AIDS. Umumnya mereka ter-kena HIV positif setelah tiga tahun menjadi penasun. Tidak aneh juga jika data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan Bandung sebagai kota yang memiliki kasus penyebaran HIV/AIDS akibat penggunaan jarum suntik tertinggi di Indonesia.

Tren penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik ini juga terjadi di kota-kota lain. Di Tasik, misalnya, penyebab utama penularan HIV/AIDS adalah antarpengguna narkoba jarum suntik. Baru disusul penularan melalui hubungan seksual, utamanya dengan pekerja seks komersial (PSK). Demikian juga di Karawang, paling banyak melalui jarum suntik antar pengguna narkoba, mencapai 76 orang. Sementara penularan melalui hubungan seksual tercatat ada 25 kasus.

Proses penularan ini akan makin cepat bila menyimak kenyataan bahwa kerap kali penggunaan narkoba juga diikuti dengan dilakukannya hubungan seks (bebas), baik dengan lawan jenis (heteroseksual) maupun dengan sesama jenis (homoseksual). Yang juga perlu diwaspadai adalah adanya cara turbo (tukar "barang" dengan body) di antara mereka untuk mendapatkan narkoba. Cara ini sering dilakukan oleh penasun perempuan yang tidak memiliki uang untuk membeli narkoba, sehingga mereka melakukan hubungan seks dengan laki-laki untuk mendapatkan narkoba. Cara ini sangat berbahaya karena semakin membuka peluang tertular HIV/AIDS.

Merebaknya narkoba kian diperparah dengan makin vulgarnya perilaku seks bebas. Entah yang atas dasar suka sama suka dengan melibatkan teman/pacar, PSK, waria, homo dsb. Hasil polling dari Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) menyebutkan bahwa 44,8 persen mahasiswa dan remaja Bandung telah melakukan hubungan seks. Belum lagi hasil polling terhadap 200 mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Bandung yang menunjukkan bahwa 50 persen responden telah melakukan hubungan badan satu kali dan 20 persen lebih dari dua kali (Pikiran Rakyat, 26/5/04). Padahal peningkatan jumlah pasangan seksual, apalagi yang disertai dengan perilaku seks tidak aman akan meningkatkan kemungkinan tertular virus HIV. Belum lagi dengan makin banyaknya kasus eksploitasi seksual dan kekerasan seksual (pemerkosaan). Jadi, bisa dibayangkan bagaimana riskannya kondisi penyebaran HIV/AIDS di Jawa Barat.

Perkecil
Memperkecil peluang terjadinya seks bebas serta merebaknya narkoba, itulah yang harus dilakukan untuk mencegah mewabahnya HIV/AIDS. Untuk itu, perlu kerja sama dan peran serta semua pihak.

Dari sisi keluarga, harus terus ditingkatkan kualitasnya. Dari sisi hukum, harus terus digencarkan upaya mengikis prostitusi, menghukum pengedar - pemakai narkoba, membuat peraturan pendukung (perda). Dari sisi sosialisasi, harus terus gencar disebarluaskan informasi tentang HIV/AIDS. Termasuk kepada para siswa di sekolah-sekolah. Dapat juga dipertimbangkan untuk memasukkan masalah HIV/AIDS ke dalam kegiatan ekstrakulikuler atau sebagai muatan lokal.

Aktivitas survei juga harus tetap digiatkan untuk terus memantau kondisi penyebaran HIV/AIDS. Pemerintah hendaknya menghidupkan dan mendukung lembaga-lembaga yang peduli HIV/AIDS. Akhirnya, marilah bersama - sama kita hambat bertambahnya pengguna narkoba serta kita kikis perilaku seks bebas. Atau...kita biarkan saja seperti sekarang ini, hingga akhirnya Jawa Barat luluh lantak dalam cengkeraman HIV/AIDS?

-- Penulis, adalah ibu rumah tangga peminat masalah sosial berkaitan dengan anak, perempuan, dan keluarga.--

Daftar Komentar

Tidak ada komentar untuk kategori ini.