ATM Sidik Jari
|
Selain menggunakan identifikasi biometrik berupa sidik jari, ATM ini juga akan dilengkapi dengan layar yang akan menampilkan warna dan suara dalam bahasa lokal yang berfungsi sebagai instruksi untuk memandu penggunanya saat melakukan transaksi. Model ini dinamakan Citibank Pragati.
Citibank Pragati dirancang berdasarkan model ATM serupa di Bolivia yang bernama PRODEM. Sejauh ini, Citigroup telah menempatkan dua Citibank Pragati. Satu di daerah kumuh di distrik Bandra, di kawasan Mumbai yang merupakan ibukota keuangan India. Satunya lagi ditempatkan Hyderabad, India Tenggara. Rencananya, Citigroup akan mengembangkan jaringan Pragati dengan menempatkan 25-35 mesin ATM lagi dalam 18 bulan kedepan. Target yang ingin dicapai adalah menjaring sampai sekitar 50 ribu konsumen. “Ini pertama kalinya kami menggunakan teknologi biometrik yang diperuntukkan bagi konsumen dalam segmen ini,” ujar PS Javakumar, Manajer Bisnis Citigroup India. “Kami melihat program ini berpotensi untuk diterapkan di berbagai negara lain dengan kondisi yang serupa dengan India.” Program Citibank Pragati oleh Citigroup – selaku salah satu perusahaan keuangan terkemuka di dunia – merupakan tanda bahwa perbankan besar mulai menyadari potensi pasar yang ada pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di India. Kedepannya, Citigroup juga mulai menargetkan masyarakat berpenghasilan rendah di negara-negara yang sekiranya menjadi pasar potensial seperti Brazil dan Indonesia. Walau tingkat populasi di India menurun, Citigroup memperkirakan bahwa hanya terdapat 300 bank di seluruh negeri. Meski begitu, tingkat pengembalian pinjaman di kalangan masyarakat miskin India dalam skema keuangan mikro mencapai 98 persen. Angka ini termasuk tinggi diantara sektor perbankan. ICICI/http://www.icicibank.com/, bank swasta terbesar di India, merupakan pelopor dalam sektor sektor perbankan yang memberikan pelayanan keuangan bagi masyarakat miskin India. ICICI menerapkan skema bank pedesaan menggunakan kartu biomterik dan alat yang mudah dipindahkan agar para petani yang buta teknologi dapat melakukan transaksi di tempat-tempat yang terpencil sekalipun. Meski tidak sesederhana teknologi iometrik, hal serupa juga diterapkan di Indonesia oleh Koperasi Simpan Pinjam Yayasan Pembangunan Pedesaan ( KSP YPP). Dengan dukungan dari PT Rekadesa dan Rabobank, KSP YPP mulai menggunakan smartcard dan penyimpanan data elektronik menggunakan teknologi EDC (Electronic Data Capture). Teknologi ini sudah diterapkan di dua KSP, satu di Tulungagung dan satunya lagi di Madiun. Kalau perbankan umum di Indonesia menggunakan kartu ATM yang dilengkapi pita magnetik untuk menyimpan data pemilik kartu, smartcard yang digunakan KSP YPP menggunakan chip yang secara otomatis akan membaca data pemilik jika dimasukkan ke terminal kartu. Selain itu, data transaksi dan identitas konsumen yang selama ini disimpan secara manual dalam bentuk kertas sekarang dialihkan ke bentuk digital. Dengan semakin sedikitnya penggunaan kertas dalam bertransaksi, KSP YPP dapat meningkatkan efisiensi dan mengalihkan biaya untuk melayani kegiatan simpan-pinjam dalam frekuensi yang lebih sering. Fokus pada Tabungan Sampai sekarang, kebanyakan lembaga keuangan yang melayani segmen mikro lebih terfokus pada produk pinjaman daripada tabungan. Hal ini mengarahkan masyarakat berpenghasilan rendah untuk terbiasa meminjam dan kurang memberikan kesempatan bagi mereka untuk memiliki tabungan. Menurut Jayakumar, citigroup menargetkan keuntungan meski tidak dalam target waktu tertentu. “Ini bukan merupakan kegiatan amal,” ujarnya. “Agar dapat berkelanjutan, setidaknya kami harus balik modal atau mendapatkan sedikit keuntungan.” Krishnan Sitaraman, kepala sektor keuangan di Crisil – lembaga kredit lokal India – mengatakan bahwa Citibank Pragati akan sulit diterapkan di luar area perkotaan India karena sulitnya akses listrik dan kelangkaan fasilitas di daerah pedesaan. Adaptasi oleh Diah Tantri Sumber: http://news.moneycentral.msn.com/provider/providerarticle.aspx?feed=FT&Date=20061201&ID=6242169 |


