for spiders only Satu Dunia (Indonesian) > Sorotan > {intl-full_coverage_by_topic} > Development > Refugees skip to main content
OneWorld SatuDunia home Logo_ Go to OneWorld.net homepage
Cari
BERITA SOROTAN KEMITRAAN AMBIL BAGIAN JARINGAN
16 May 2008

Masyarakat Korban Gempa Yogya, Kekurangan Layanan Kesehatan Reproduksi

Pasca gempa, sering muncul keluhan mengenai bantuan yang disalurkan pemerintah. Pemerintah juga, cenderung abai terhadap pelayanan kesehatan reproduksi bagi perempuan. Warga akhirnya memilih pelayanan kesehatan swasta. PKBI Yogyakarta berinisiatif turut memberikan layanan klinik keliling untuk mengatasi persoalan ini.

“Dari pemerintah itu cuma beras dan uang lauk. Itu saja nggak cukup!” Jawaban ini terlontar dari seorang ibu korban gempa di Pleret, Bantul, ketika ditanya tentang bantuan dari pemerintah pasca gempa. Seorang ibu lainnya, yang juga sedang menerima pelayanan suntik KB dari Klinik Keliling PKBI menambahkan, ”Beras wae pera(Berasnya aja keras untuk dimakan)”. Kondisi ini hanyalah salah satu contoh kecil dari banyaknya keluhan masyarakat tentang bantuan yang disalurkan oleh pemerintah secara umum.

Tak ada Bantuan Kesehatan dari Pemerintah

Saat ditanya mengenai bantuan kesehatan dari pemerintah, para ibu ini hanya menggeleng dan mengatakan belum pernah menerima bantuan apapun. Kenyataan ini sangat memprihatinkan mengingat korban gempa sangat rentan terkena penyakit akibat tidak layaknya kondisi di penampungan pasca gempa. Kebanyakan dari mereka masih tinggal di dalam tenda sambil menunggu biaya pengganti kerusakan rumah yang dijanjikan oleh pemerintah.

Itu sebabnya masyarakat Dusun Karet, Pleret, Bantul, menyambut dengan antusias saat Klinik Keliling PKBI mengunjungi mereka pada Selasa, 4 Juli 2006 lalu. Kebanyakan pasien yang datang adalah ibu-ibu dengan anak balita rata-rata yang ingin melakukan suntik KB. Beberapa ibu tampak membujuk rekannya yang tampak malu-malu untuk menghampiri klinik karena mengira mereka akan disuntik di pantat di depan umum. Padahal, klinik keliling telah menyediakan tenda khusus untuk pelayanan suntik KB.

Menurut Suprihatin, seorang ibu dari bayi berusia 11 bulan, hanya Klinik Keliling PKBI-lah yang menyediakan layanan KB. ”(Klinik Keliling PKBI) Lebih lengkap, ada KB-nya. Kalau ada mau minta lagi”, ungkapnya. Harapan ini juga diungkapkan oleh Ika, salah seorang pemudi Pleret yang bertugas mengatur jadwal kedatangan klinik di tenda. Ia berharap Klinik Keliling PKBI untuk pelayanan KB bisa datang secara rutin ke Dusun Karet karena permintaan masyarakat setempat cukup tinggi.

Klinik Bukan dari Pemerintah, Lebih Bagus

Selama ini memang klinik-klinik keliling yang bukan merupakan klinik pemerintah yang mampu mengatasi masalah kesehatan mereka. Beberapa orang yang diminta pendapatnya merasa sangat bersyukur akan banyaknya klinik keliling yang mengunjungi desa mereka. Meskipun begitu, bukan berarti adanya klinik keliling tersebut bisa menjawab semua kebutuhan mereka, terutama bagi ibu hamil dan menyusui serta bayi dan balita.

Layanan kesehatan yang disediakan oleh klinik-klinik tersebut hanya berupa pengobatan dan pemeriksaan yang bersifat umum. Sedangkan suplemen atau vitamin yang dibutuhkan ibu hamil dan balita tidak tersedia. Lalu, darimana mereka memperoleh nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan mereka? Posyandu -yang selama ini bisa dibilang cukup membantu menjaga kesehatan bayi dan balita mereka- belum beroperasi lagi setelah gempa. Padahal selama ini Posyandu menyediakan vitamin, suplemen, makanan bergizi setiap bulannya, serta pengukuran pertumbuhan bayi. Kini, para bayi dan balita di dusun tersebut harus cukup puas hanya dengan makan makanan seadanya. Pilek dan batuk menjadi hal biasa bagi mereka sejak mereka tinggal di tenda.

Lain lagi dengan kondisi ibu hamil di Dusun Karet. Rini, salah seorang ibu hamil yang berhasil ditemui tim media PKBI DIY, mengatakan bahwa apa yang dimakannya sebelum dan sesudah gempa tidak ada yang berubah. Ia hanya menambahkan susu khusus untuk masa kehamilan dan rutin memeriksakan kondisi kehamilannya ke Bu Lia, seorang bidan di Dusun Dogorok. Di sana, ia hanya diperiksa perut dan matanya, serta diberi obat penambah darah. Ia memilih Bu Lia karena gratis, sedangkan bidan lainnya meminta bayaran.

Ibu hamil di dusun tersebut memang jarang sekali menggunakan pelayanan Puskesmas untuk memeriksakan kehamilan mereka. Alasannya, untuk kehamilan, fasilitas yang ditawarkan oleh Puskesmas tidak selengkap di bidan. Selain itu, jadwal kedatangan klinik keliling Puskesmas ke dusun-dusun hanyalah sebulan sekali, bergantian untuk setiap dusun. Artinya, Dusun Karet dikunjungi puskesmas keliling setiap 17 bulan sekali mengingat terdapat 17 dusun di Kecamatan Pleret.

Hal ini sangat memprihatinkan, karena ini berarti pemerintah tidak memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil dan menyusui, juga para balita mereka. Padahal, pada kehamilan dan menyusui adalah masa dimana perempuan membutuhkan nutrisi untuk kesehatan bayi mereka. Kondisi ini diperburuk oleh rendahnya tingkat pengetahuan para ibu hamil akan masa-masa kehamilan, pasca melahirkan, dan menyusui.

Satu hal yang patut disyukuri adalah tidak ada satupun ibu hamil yang terluka, meninggal dunia, maupun keguguran karena musibah gempa. Dari delapan ibu hamil, dua diantaranya telah melahirkan dengan selamat di RS PKU Muhamaddiyah dan di tenda pengungsian dengan biaya melahirkan gratis.

Masyarakat setempat memang kurang akrab dengan pelayanan kesehatan dari pemerintah. Ibu hamil biasa memeriksakan kehamilan mereka di bidan, begitu juga dengan proses persalinannya. Kecuali mereka butuh operasi caesar, mereka akan menggunakan jasa rumah sakit swasta terdekat. Masyarakat umum pun lebih memilih untuk memeriksakan diri ke dokter praktek ketika sakit.

Posyandu sendiri sebelum gempa dikoordinir secara swadaya oleh ibu-ibu PKK. Penyediaan makanan bergizi untuk bayi dan balita juga merupakan urunan dari masyarakat. Saat inipun mereka sedang berusaha mendapatkan donatur yang mau menyumbangkan peralatan untuk Posyandu, agar secepatnya Posyandu dapat berfungsi kembali.

Pada akhirnya warga dusun Karet harus berusaha sendiri untuk menjaga kesehatan mereka. Meski demikian, warga tetap berharap pemerintah dapat menyediakan puskesmas yang tetap dan lengkap atau klinik keliling dengan fasilitas yang cukup dan lebih sering mengunjungi warga. Sehingga warga dapat mengakses layanan untuk kesehatan reproduksinya dengan cepat, mudah dan murah. (kalimat penutup ini harus diperbaiki mbak, kurang nyambung dengan kalimat pembukanya)

Menur, PKBI DIY

Komentar pembaca

Tidak ada komentar